"Tidak boleh menyatakan dirinya secara pribadi berpihak kemudian selebihnya menetralkan umatnya," katanya di Jakarta, Minggu (25/5).
Menurut Kiai Hasyim, posisi Said Aqil berbeda dengan dia yang sudah tidak lagi menjabat di struktural NU atau Syafii Maarif dan Amien Rais yang tidak lagi menjabat di struktural Muhammadiyah sehingga ketika mendukung salah satu bakal capres tidak dikaitkan dengan organisasi.
Ketika maju sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2014, lanjut Kiai Hasyim, ia pun nonaktif sebagai Ketua Umum PBNU selama enam bulan.
"Saya sekarang sudah mantan Ketua Umum PBNU setelah menjabat dua periode. Maka saya bebas memilih tanpa menggunakan struktur NU. Berarti ketika saya mendukung Jokowi-JK sama sekali tidak ada masalah dengan aturan yang berlaku di NU," tandas Kiai Hasyim.
Sebelumnya seperti dilansir dari
Antara, Kiai Hasyim memuji keputusan Muhammadiyah untuk bersikap netral pada Pemilu Presiden 2014. "Saya menyampaikan apresiasi dan penghormatan terhadap sikap Muhamadiyah yang disampaikan oleh Pak Din Syamsuddin perihal netralitas Muhammadiyah terhadap Pilpres 2014. Itu sangat bagus dan memang seharusnya," ungkapnya.
Menurut Kiai Hasyim, Muhammadiyah sebagai penjaga integritas moral umat dan bangsa tidak boleh bergerak dalam politik praktis, namun harus bergerak politik keumatan dan kebangsaan. "Sebenarnya NU pun demikian dalam aturannya. PBNU seharusnya mendeklarasikan netralitas aktif seperti yang diputuskan Muktamar NU," ucap Kiai Hasyim.
[rus]
BERITA TERKAIT: