"Ketika saya, bersama teman-teman secita-cita mendirikan PAN di awal Reformasi, saya berharap ikut menyumbang perbaikan semangat dan mutu kepartaian Indonesia, yang sudah dirusak oleh Orde Baru. PAN adalah kelanjutan dari gerakan pro demokrasi yang melawan kekuasaan otoriter Jenderal Suharto," kata Goenawan dalam keterangannya yang dilansir laman jejaring sosial
Facebook, Rabu (14/5).
Goenawan menceritakan sejak kejatuhan rezim Suharto, dirinya dan kawan-kawan seperjuangan ingin membangun sebuah partai yang punya platform politik jelas untuk diperjuangkan ke arah demokrasi yang lebih luas, kebhinekaan yang lebih hidup, dan kesejahteraan yang lebih merata. Dalam sejarahnya PAN pernah berusaha ke arah tersebut. Tetapi makin lama makin tidak memandang politik sebagai perjuangan. Melainkan hanya hasrat mengukuhkan posisi dalam struktur yang ada dan untuk memperoleh jabatan empuk bagi para elitnya.
Dia mengakui bahwa hal seperti itu menjadi tabiat partai-partai di Indonesia sekarang. Sebagai partai yang lahir dari Reformasi seharusnya PAN dapat mencoba memperbaiki keadaan itu, tetapi tidak dilakukan. Hingga akhirnya dalam pemilu dan pemilihan presiden 2014, PAN makin terseret ke dalam lingkaran oportunisme.
"Yang diupayakannya hanyalah agar ketua umum dapat jabatan wakil presiden. Karena itu, PAN bersedia mendukung kekuatan yang di masa Orde Baru ingin memadamkan gerakan pro demokrasi, antara lain dengan cara-cara kekerasan," jelas Goenawan.
Selama ini, lanjutnya, meskipun dengan kekecewaan, Goenawan tetap menjadi anggota PAN dan membayar iuran secara teratur.
"Tetapi kali ini saya tidak punya harapan lagi. Saya menyatakan berhenti dari keanggotaan," tegas Goenawan.
[dem]
BERITA TERKAIT: