Tugas utamanya adalah mempromosikan sang capres jagoan, dan menyeimbangkan informasi yang beredar di publik melalui media sosial (facebook, twitter dan email). Masa kerjanya sampai pemilu presiden selesai digelar. Mereka lebih sering dikenal sebagai "buzzer" atau "spammer".
"Kerja delapan jam sehari, seminggu enam hari kerja," kata mahasiswa semester akhir sebuah kampus di Jakarta ini kepada
Rakyat Merdeka Online, Rabu (7/5).
Dalam satu hari, lanjutnya, terdapat tiga
shift bagi para relawan untuk menjalankan tugasnya. Namun ia menolak menyebut lebih lanjut mengenai berapa banyak orang yang terlibat dan menjadi pekerja media sosial seperti dirinya. Ia hanya menjelaskan bahwa terdapat puluhan orang yang rata-rata masih berstatus mahasiswa, dan ada juga yang sudah lulus perguruan tinggi.
Semakin dekat pemilu presiden, sambungnya, jumlah personil media sosial tersebut akan diperbanyak demi mengefektifkan kinerja.
Lebih lanjut, sumber tersebut menerangkan bahwa dalam menjalankan tugasnya ia hanya dibekali dengan sebuah perangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. Dengan demikian, ia hanya dapat menjalankan tugas di kantor, layaknya para pekerja kantoran.
Ia pun mengakui, motivasinya bekerja semacam ini sekadar demi pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari. Lantas, berapa bayaran atas kerja 'relawan' tersebut setiap bulannya?
"Yang jelas masih di bawah UMR," singkatnya.
Sementara itu, orang berbeda dengan "profesi" yang sama, mengaku tidak memiliki jam kerja tetap.
Saat ditemui redaksi di sebuah kawasan kuliner di Jakarta, pemuda berbadan tegap usia 29 tahun ini membawa bekal alat komunikasi yang diberikan oleh kantornya. Dengan begitu, ia dapat menjalankan tugas hariannya dari mana saja ia berada dan kapan saja.
"Di sini ada grup yang menghubungkan saya ke bos dan sesama rekan lain. Kalau kantor pusat kami di kawasan Menteng," ujar pria yang mengaku sudah punya pekerjaan tetap itu, sambil menunjukkan
gadget-nya kepada redaksi.
Sebagai kelompok yang kerjanya menyokong pencitraan salah seorang capres, ia mengakui bahwa timnya tetap bekerja dibumbui idealisme. Ada gagasan yang diusung kelompoknya.
"Kalau suatu saat nanti ada perubahan, bisa saja kami menyeberang ke capres lain. Ini tergantung bagaimana capres itu mau menerima ide-ide kami," ujarnya.
Ia juga mengatakan, timnya terbagi dalam beberapa divisi kerja. Ada yang bekerja sebagai
think tank dan ada yang bertugas khusus menangani media sosial atau menyeimbangkan pemberitaan di media-media online.
"Bayaran kami tidak tinggi. Tapi, yang kami tawarkan bukan cuma jasa, tetapi ide-ide," tegasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: