"Saya sudah komunikasi dengan teman-teman. Yakinlah M. Rahmad tidak akan sembunyi. Kami orang-orang pergerakan bukan tipe penakut," ujar Pasek kepada
Rakyat Merdeka Online, MInggu (20/10).
Djoko Suyanto sebelumnya meminta moderator diskusi "Dinasti Politik dan Politik Meritokrasi" Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), M. Rahmad untuk bersikap ksatria. Rahmad harus meminta maaf dan mengakui kesalahannya bahwa Prof. Subur Budhisantoso salah satu pembicara dalam diskusi itu telah diciduk Badan Intelijen Negara (BIN).
Menurut Pasek pernyataan Djoko tersebut aneh, karena ada kesan ingin mendegradasikan figur M. Rahmad. Memangnya Djoko Suyanto yang menuduh M. Rahmad sembunyi sudah memburu dan mencarinya? Kalau sudah kata Pasek, dicari di mana?
"Saya lihat sampai malam Pak Rahmad masih update status dan komunikasi," terang Anggota Komisi III ini.
Sekarang pertanyaannya ujar Pasek, siapa yang mengatakan Prof. Subur diculik dan ditangkap? Itu harus dilacak. Karena moderator hanya menjelaskan kronologis narsum (Prof. Subur) kenapa tidak datang dan mempersilakan untuk menafsirkan. Justru ungkap loyalis Anas Ubaningrum ini, dengan tuduhan M. Rahmad sembunyi dan tidak ksatria ada kesan ingin menjatuhkan citra moderator.
Sekarang semestinya Menkopolhukam pinta Pasek menjelaskan sejak kemarin sudah ke mana saja memburu M. Rahmad sehingga mengeluarkan statemen begitu? Dijelaskan juga dalam rangka apa memburu dan mencari M. Rahmad? Tambah Pasek, kalau bahasa para aktivis mengeluarkan joke dan sindiran ditanggapi tidak proporsional jadi lucu.
"Saya saja kontak dan BBM-an masih lancar dengan Pak Rahmad meskipun saya di Bali," demikian Pasek.
[rus]
BERITA TERKAIT: