Indonesia Maritime Institute (IMI) melihat permasalahan ini perlu dicari jalan keluarnya. "Kembali kita mendengar ada kapal pengangkut imigran gelap tenggalam. Ini sungguh memprihatinkan," kata Direktur IMI, Y Paonganan kepada wartawan, Sabtu (28/9).
Seperti diberitakan, sebuah kapal yang mengangkut sekitar 80 imigran gelap tenggelam di perairan Cianjur, Jumat (27/9). "Informasi yang terakhir kami dapat ada 22 orang imigran gelap meninggal, 23 selamat dan sisanya hilang," kata Kepala Pos SAR Palabuhanratu Basarnas, Zaenal Arifin.
Peonganan melanjutkan, perlu penguatan patroli laut agar tidak seenaknya para imigran gelap ini keluar masuk Indonesia. "Indonesia memang negara laut, sehingga banyak jalan tikus yang mudah dilalui oleh para imigran gelap. Tentu perlu penguatan pengawasan laut," tegasnya.
Ongen biasa disapa mengatakan penanganan pelintas batas laut illegal ini perlu menjadi perhatian, bukan saja oleh Indonesia tapi negara-negara dalam kawasan ASEAN untuk menjadi salah satu agenda pembicaraan pada tingkat Internasional, sehingga ditemukan solusi bersama.
"Bagaimanapun, mereka juga manusia yang punya hak untuk hidup. Maka dari itu, negara asal serta negara tujuan para imigran ini perlu memberi perhatian yang serius," tegasnya.
Indonesia sebagai negara yang paling sering dilalui para imigran gelap ini bisa menjadi inisiator pembahasan masalah ini di forum Internasional. "Pembahasan tingkat internasional perlu dilakukan," tandasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: