Pengamat politik senior, Arbi Sanit, mengatakan, meski PDIP berani mengusung kader sendiri dan tidak berkoalisi dalam Pilkada, justru terlihat ketidakluewesan partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu dalam berpolitik.
"Dalam Pilkada minimal harus dapat 30 persen suara untuk menang. Bagaimana PDIP mencari 10 persen dari luar partai? Harus berkoalisi. Koalisi ini pun jangan dengan partai yang cuma 5 persen," terang Arbi Sanit kepada
Rakyat Merdeka Online, Senin (6/5).
Pakar politik dari Universitas Indonesia ini mengatakan juga, mengusung kader sendiri bukan jaminan partai yang memiliki basis cukup ideologis seperti PDIP bisa menang dalam Pilkada. Karena, belum tentu semua kader di daerah
sreg dengan calon yang diajukan pusat.
"Di PDIP juga kan ada yang
berantem sesama kader dan tidak semua kader memilih calon yang diajukan, kalau kontroversial pasti kalah. PDIP harus ingat ini Pilkada, bukan pemilihan ketua umum dia," tegas dia.
Masih menurutnya, dalam sistem multi partai tidak mungkin ada partai yang "menang sendiri" di pemilihan yang bersifat langsung. Harus ada koalisi. Sekali lagi ini bukan soal martabat partai, tapi perhtiungan politik tentang berapa suara yang bisa diperolah dan siapa yang bisa diandalkan meraup suara.
"Kalau martabat tanpa perhitungan, ya kalah. Politik itu ada perhitungannya," tegas dia lagi.
Arbi menyadari, PDIP sebagai partai "ekstrim kiri" dan fanatik pada ideologi Soekarnois yang anti barat dan anti neo-liberal. Tapi menjadi kesalahan fatal bila PDIP tak mampu fleksibel. Namun, PDIP juga diingatkan agar tidak terlalu pragmatis seperti Partai Golkar.
Bahkan, PDIP pun bisa mempertimbangkan tokoh dari luar partai untuk diusung menjadi jagoannnya dalam pilkada atau bahkan pilpres mendatang.
"Pragmatisme mesti dimainkan juga, sedikit tarik ulur dalam tafsirkan ideologi. Tapi jangan seperti Golkar yang seperti tidak berideologi dan sama sekali sangat pragmatis," tandasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: