Ia tertembak di Dusun Kuala Air Teh, Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Kamis siang (10/11), pukul 14.50 WITA.
"Yang bersangkutan adalah salah satu dari 10 DPO (daftar pencarian orang) kelompok Santoso yang tersisa. Dan merupakan kelompok pelaku (pengendara motor yang memboncengkan pelaku) penembakan Kapolres Poso pada tahun 2016," ujar Karo Penmas DivHumas Polri, Brigjen Pol Agus Rianto dalam penjelasan persnya, Jumat (11/11).
Sekarang ini, jenazah tadi malam sudah bisa dilaksanakan evakuasi dari tempat kejadian perkara di Desa Salubanga. Pada pukul 00.45 WITA tiba di Polsek Sausu Res Parimo, dan pukul 04.15 WITA tiba di RS Bhayangkara Palu.
"Saat ini jenazah sedang dalam perawatan dan diambil identifikasi pengenalan fisik berupa, bentuk muka bulat, rambut: kriting Tanda khusus 2 tato gambar wanita di punggung dan 1 tato di kaki. Telah ditunjukkan foto wajah dan tato kepada pihak keluarga," pungkas Agus Rianto.
Diketahui, Santoso sendiri sudah tewas dalam baku tembak di Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah, pada 18 Juli 2016.
Santoso sebagai Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur selama ini dikenal sebagai pimpinan kelompok teroris yang licin. Pria yang diburu sejak 2007 itu sulit ditangkap. Polisi kerap menyebut keterlibatannya dalam sejumlah aksi terorisme di Indonesia.
[rus]
BERITA TERKAIT: