Dia merasa semua potensinya belum keluar. Selain itu pebalap berusia 19 tahun itu menilai masih ada masalah yang belum terselesaikan oleh timnya.
"Mobil kami masih kurang kompetitif. Ada masalah pada ban sehingga kami tidak bisa maksimal. Sejauh ini belum ada solusi yang tepat. Mudah-mudahan di Monza kami bisa mendapat mukjizat dan bisa mendapatkan mobil yang kompetitif," ujar Sean dalam rilisnya yang diterima
Rakyat Merdeka, kemarin.
Hal senada juga diungkapkan rekan setimnya Mitch Evans. "Kami seharusnya bisa berada di posisi yang lebih bagus. Cuma kami masih punya persoalan yang belum terselesaikan dan ini pekerjaan rumah buat semua anggota tim," kata Evans.
Faktanya, sejak balapan pertama di Barcelona Spanyol sampai seri ke delapan di Belgia kemarin, Tim Campos Racing cuma sekali menempatkan pebalapnya di posisi sepuluh besar dalam sesi kualifikasi, yakni pada balapan di Monaco. Padahal, Mitch Evans yang sudah berpengalaman di GP2 selama tiga musim dan tahun lalu berada di posisi lima besar, diharapkan bisa bersaing di barisan depan.
Belum didapatkannya setelan mobil yang pas memang menjadi pekerjaan rumah. Pada balapan di Belgia, Sabtu dan Minggu lalu, Sean dua kali berada di posisi ke-18. Sementara Evans berada di posisi ke-16 dan ke-13. Evans terakhir kali mendapat poin pada balapan sprint di Hongaria. Sementara Sean terakhir kali mendulang poin di sirkuit Red Bull Ring, Austria, yang menjadi hasil terbaik tim Pertamina Campos Racing dengan menempatkan Evans dan Sean di posisi podium satu-dua.
"Ya, tentu kami ingin tampil lebih konsisten. Kami bersama tim harus harus bekerja lebih keras untuk mewujudkan itu," kata Sean.
Balapan di Monza kondisinya hampir sama dengan balapan seri Belgia. Karakter sirkuitnya hampir sama dengan sirkuit Spa yang merupakan trek cepat. Trek balap ini memiliki panjang lintasan 5.793 meter dengan 11 tikungan. Di sirkuit inilah para pebalap bisa memacu kendaraan mereka sekencang-kencangnya. Karena Monza merupakan sirkuit yang paling minim hambatan.
Untuk menang di sirkuit ini, mobil harus disetting dengan downforce yang rendah. Tujuannya agar lebih kencang untuk bersaing dengan kompetitor. Dengan karakteristik Monza sepÂerti itu, berarti para pebalap harus pintar-pintar mengatur rem. Terutama sesaat sebelum memasuki tikungan setelah lintasan lurus. ***
BERITA TERKAIT: