Petenis muda asal Kanada itu akan memecat pelatihnya usai tersÂingkir di laga perdana Wilbledon 2015. Sedangkan, Simona Halep ogah pulang kampung lantaran malu kalah di babak pertama.
Bouchard harus angkat koper lebih awal setelah dijungkalkan petenis non unggulan asal China, Duan Ying Ying. Petenis perÂingkat 11 dunia dipermalukan petenis 117 dunia.
Melihat prestasi dan peringkat itu, Bouchard tentu lebih diungÂgulkan. Tapi, nyatanya finalis Wimbledon 2014 itu justru tersÂingkir di babak pertama setelah kalah 6-7 (3/7), 4-6 pada pertandÂingan yang digelar di lapangan 1 All England Lawn Tennis and Croquet Club, kemarin.
Bagi Bouchard, ini bukan hanÂya sebuah kekalahan menohok di ajang sekaliber Wimbledon. Namun kekalahan tersebut meÂnegaskan rekor buruk permainÂannya dalam beberapa pertandingan terakhir. Pasalnya, ini merupakan kekalahan ke-12 dari 14 pertandingan terakhirnya, dan akan membuatnya terlempar dari 20 besar peringkat dunia.
Petenis 21 tahun mengakui dirinya bermain menentang saran medis setelah menderita robek otot perut tingkat dua di Eastbourne pekan lalu. "Mungkin akan menÂjadi langkah cerdas untuk tidak bermain di sini, namun saya tidak dapat melewatkan Wimbledon. Maka saya memaksa melakukan persiapan yang sangat minimal," kata Bouchard, seperti dikutip
Reuters, kemarin.
Namun di luar hal itu, Bouchard mengirim sinyal akan mengganti pelatihnya, Sam Sumyk, yang gagal mengeluarkan dia dari kekalahan ke-12 dalam 14 pertandingan terakhirnya. "Mungkin mengganti pelatih itu harus segera dilakukan," kata Bouchard saat ditanya apakah dia akan mengganti pelatihnya.
Di turnamen bergengsi ini, Bouchard hampir saja terkena sanksi karena tidak mengikuti aturan yang berlaku. Salah satu yang paling mencolok ialah keharuÂsan menggunakan pakaian serba putih. Tidak hanya baju, celana atau rok, dan sepatu, pihak panitia juga mewajibkan petenis mengenakan pakaian dalam berwarna putih. Mereka hanya memberikan tolerÂansi 1 cm untuk warna lain (selain merk) di pakaian petenis.
Tapi Bouchard melanggar aturan tersebut. Dia menggunakan bra putih dengan tali berwarna hitam. Inilah yang jadi masalah bagi Bouchard.
Umpire pertandingan Louise Engzell yang melihat hal itu langsung menghubungi wasit turnamen yang kemudian menginterogasi Bouchard di lapangan. Setelah beberapa meÂnit berbincang, Bouchard bisa melanjutkan pertandingan tanpa harus membuka atau mengganti tali bra-nya.
Sayangnya, meski lolos dari sanksi, Bouchard tak mampu selamat dari tersingkir dini. Petenis nomor 12 dunia ini diluar dugaan harus angkat koper usai takluk 7-6 (7-3), 6-4. "Saya tidak tahu semua aturan itu. Lagipula, tidak ada yang mengatakan keÂpada saya tentang bra yang saya kenakan," kata Bouchard kepada Sportsmail usai laga.
Sementara, Simona Halep harÂus menanggung malu usai dikaÂlahkan petenis muda Slovakia, Jana Cepelova dengan kekalaÂhan 7-5, 4-6, dan 3-6. Prestasi itu mengulang catatan buruk petenis 23 tahun di Wimbledon pada 2012 lalu.
Sadar kekalahannya di babak pertama Wimbledon 2015 sangat ironi sebab peringkat lawan jauh di bawahnya. Untuk menghindari stigma negatif masyarakat, petenis peringkat tiga dunia itu mengaku enggan langsung pulang ke tanah kelahirannya, Rumania. "Sulit unÂtuk kembali ke Rumania saat ini. Sekarang saya ingin pergi berlibur. Saya ingin pergi," kata Halep, sepÂerti dikutip The Telegraph.
Cepelova yang punya peringÂkat 199 dunia, bisa diibaratkan seperti langit dan bumi dengan Halep. Di usia yang hampir sama, Cepelova belum pernah membuat kejutan di turnamen besar daripada Halep yang sudah mencapai final Prancis Terbuka tahun lalu dan membawanya ke posisi tiga besar dunia saat ini.
Beda dengan dua petenis cantik itu, Caroline Wozniacki berhasil memastikan tempat di babak kedua usai mengalahkan petenis China, Saisai Zheng dua set langsung 7-5,6-0. Selanjutnya, Wozniacki akan melawan Denisa Allertova (Ceko) di babak kedua. Petenis 22 tahun itu mengantongi tiket babak kedua usai memulangkan rekan senegaranya, Katerina Siniakova 2-6, 6-4, 3-6. ***
BERITA TERKAIT: