Ini pula yang menjadi alasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan olimpiade olahraga tingkat nasional bagi para penyandang disabilitis.
Kepada
Rakyat Merdeka Online, Ahmad Yusuf selaku ketua pelaksana kegiatan tersebut mengatakan bahwa
event ini berlangsung tiap tahunnya sebagai wujud eksistensi anak-anak ABK agar masyarakat Indonesia tahu bahwa anak ABK pun layak berprestasi.
"Untuk tahun ini Jakarta yang dipercaya menjadi tuan rumah, dan kami mempercayakan SLB 01 Lebak Bulus sebagai tempat diselenggarakan kegiatan ini," ujar Yusuf yang juga menjabat sebagai Ketua bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Direktorat Jendral Pendidikan dan Kebudayaan di SLB 01 Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa (17/6).
Adapun kategori cabang olahraga yang diperlombakan, menurut Yusuf, yakni cabang catur untuk anak tuna netra, cabang olahraga lari dan boci (lempar bola) untuk tuna grahita, balap kursi roda khusus anak dengan gangguan tuna daksa dan terakhir cabang olahraga lompat jauh dan badminton untuk anak-anak dengan gangguan tuna rungu.
"Tujuan dari olimpiade ini adalah agar dapat meningkat
self estimasi atau rasa penghargaan atas dirinya sendiri bagi anak-anak ABK, kan kita tahu kalau ABK sering dipandang sebelah mata, bahkan oleh ibunya," jelasnya.
Diharapkan dengan event ini semua orang tahu bahwa ABK itu berharga. Yusuf menambahkan, Kemendikbud telah merancang program agar para juara di event ini nantinya dapat dikirim ke olimpiade olahraga anak berkebutuhan khusus tingkat internasional.
[wid]
BERITA TERKAIT: