Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kelompok Bridge Seninan (Monday Bridge Club) yang hampir semua anggotanya adalah perempuan yang sudah berusia 60 tahun ke atas.
"Turnamen Bridge terbuka sengaja kami pilih untuk memperingati Hari Kartini, karena olahraga Bridge yang tidak mengenal batas usia ini mampu mengasah daya pikir agar tetap tajam dan melatih pengendalian emosi, karakter yang penting bagi perempuan," jelas Herawati Diah (96 tahun) Penggagas, mewakili Monday Club dalam penjelasannya kepada media di Jakarta belum lama ini.
Turnamen Bridge bertajuk "Dora Sumitro" akan dilaksanakan pada tanggal 26 April bertempat di Hotel JS Luwansa, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-22, atas dukungan Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD).
"Kami sangat menghargai kesediaan YAD mendukung kegiatan ini. Oleh karena itu, nama Dora Sumitro kami gunakan, sekaligus mengenang Ibu Dora Sumitro yang sampai akhir hayatnya di usia 87 tahun, adalah pemain bridge handal anggota Monday Club," jelas Herawati.
Lebih dari dua tahun terakhir ini sangat sedikit turnamen bridge yang diselenggarakan “Mungkin bridge memerlukan perhatian dari induk Organisasinya di Indonesia, agar dapat berkembang,†sambungnya.
Sebenarnya olahraga bridge bukan jenis olahraga yang baru di Indonesia. Indonesia bahkan pernah menjadi negara yang sangat berprestasi dan disegani di kancah olahraga brige dunia. “Bridge itu olahraga otak, mengandalkan kecerdasan pemikiran. Selain itu olahraga ini bukan permainan individu melainkan permainan tim karena dimainkan oleh dua orang sebagai satu tim,†ujar Paula Wirjawan Djojosoegito, yang didapuk menjadi Ketua Penyelenggara Turnamen.
Turnamen ini terbuka untuk diikuti oleh pasangan pemain bridge dari berbagai klub yang ada di Jakarta. Bagi yang berminat silahkan mebnghubungi panitia melalui klubnya masing-masing. “Kami menghimbau keikutsertaan banyak pemain bridge perempuan untuk turut serta pada turnamen, yang menurut rencana akan diikuti oleh 200 orang peserta dan diharapkan dapat dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak – Linda Gumelar,†lanjutnya.
Bagi Yayasan Arsari Djojohadikusumo, mendukung kegiatan ini adalah sebagai bagian dari upaya memelihara semangat kejuangan Ibu Kartini bagi perempuan Indonesia.
“Turnamen ini adalah sebuah langkah kecil yang diinisiasi oleh sekelompok pemain bridge perempuan yang sudah lanjut usia. Dengan semangat Kartini yang tinggi, kami berharap mereka menjadi teladan dan inspirasi bagi kaum perempuan lainnya,†kata Aryo, pria yang menjabat sebagai Wakil Pengurus Yayasan Arsari Djojohadikusumo.
[dem]
BERITA TERKAIT: