Tiga Langkah Strategis Komunikasi Penghimpunan ZIS 2027

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widodo-bogiarto-1'>WIDODO BOGIARTO</a>
LAPORAN: WIDODO BOGIARTO
  • Senin, 28 September 2026, 21:02 WIB
Tiga Langkah Strategis Komunikasi Penghimpunan ZIS 2027
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI. (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
rmol news logo Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI mendorong penguatan strategi komunikasi penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dengan menempatkan kepercayaan publik sebagai bagian penting dalam perjalanan masyarakat hingga memutuskan untuk menyalurkan ZIS.

Hal tersebut disampaikan Kepala Divisi Pengumpulan Digital Baznas RI, Fahrudin, dalam acara NGO Communication Strategic Direction for 2027: Closing the Evidence Gap in Communication Measurement yang digelar secara daring, dikutip Senin 28 September 2026.

Dalam paparannya, Fahrudin menyampaikan tiga langkah strategis yang perlu dilakukan lembaga filantropi dalam menghadapi perubahan perilaku masyarakat dan perkembangan ekosistem komunikasi digital.

Pertama, Connect the Data, yaitu mengintegrasikan data komunikasi, media, digital, donatur, dan fundraising. Menurutnya, komunikasi dan fundraising perlu dipandang sebagai satu perjalanan yang saling terhubung, bukan sebagai dua fungsi yang berjalan secara terpisah.

Kedua, Measure Trust, yaitu membangun kerangka pengukuran kepercayaan yang tidak hanya berfokus pada reach, engagement, atau nilai publikasi, tetapi juga mencakup sentimen, kredibilitas pesan, kepercayaan atau keyakinan donatur, conversion, retention, dan repeat donation.

Ketiga, Turn Data into Decision, yaitu memastikan setiap hasil pengukuran dapat diterjemahkan menjadi keputusan dan tindak lanjut yang konkret. Setiap laporan, kata Fahrudin, idealnya tidak berhenti pada penyajian angka, tetapi mampu menjawab pertanyaan “So what?” dan “What’s next?” sebagai dasar menentukan pesan, kanal, audiens, waktu, maupun alokasi anggaran.

“Dalam penghimpunan ZIS, kepercayaan menjadi bagian penting dalam perjalanan masyarakat sebelum memutuskan berdonasi. Prosesnya dimulai dari mengenal lembaga, mempertimbangkan, membangun kepercayaan, kemudian berdonasi, kembali berdonasi, hingga merekomendasikan kepada orang lain,” ujar Fahrudin.

Menurut Fahrudin, tantangan komunikasi saat ini tidak lagi sekadar bagaimana membuat sebanyak mungkin masyarakat melihat atau berinteraksi dengan suatu pesan. Lebih jauh, komunikasi perlu dilihat dari kemampuannya dalam membangun kepercayaan dan mendorong perubahan perilaku.

Hal tersebut sejalan dengan kerangka pengukuran yang dikembangkan dalam paparannya, yaitu perjalanan dari attention, trust, confidence, action, sampai long-term relationship. Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan komunikasi dapat dihubungkan dengan indikator fundraising seperti akuisisi donatur, retensi, dan lifetime value. 

Fahrudin mencontohkan, dalam aktivitas komunikasi Baznas, indikator seperti reach, engagement, traffic, CTR, dan media coverage perlu dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih substantif: apakah traffic tersebut menghasilkan donasi, apakah donatur kembali berdonasi, dan apakah tingkat kepercayaan mereka meningkat?

“Yang kita ukur bukan hanya apakah masyarakat melihat kita, tetapi apakah komunikasi membantu masyarakat percaya kepada kita. Karena pada akhirnya, kepercayaan menjadi salah satu faktor yang memungkinkan masyarakat untuk memberikan dukungan,” pungkas Fahrudin. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA