Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor lahir dari kesadaran bahwa kota tidak semestinya hanya dibangun untuk kendaraan bermotor, tetapi juga harus memberikan ruang yang layak bagi manusia, lingkungan hidup, dan kehidupan sosial masyarakat.
Car Free Day diinisiasi oleh sejumlah LSM Lingkungan Hidup dan Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) se-Jabodetabek termasuk KPBB dengan uji coba (trial) pada 31 Maret 2001, 22 April 2001 dan baru mulai berhasil pada 22 September 2002.
Pada peringatan ke-24 ini,
Car Free Day DKI Jakarta telah berkembang menjadi ruang publik yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.
Peringatan
Car Free Day yang diselenggarakan mengambil momentum The World Car Free Day setiap 22 September, kali ini diselenggarakan 27 September 2027 di Bundaran HI.
Di
Car Free Day selama ini, masyarakat dapat berolahraga, berjalan kaki, bersepeda, berinteraksi, berekreasi, serta membangun kesadaran bersama tentang pentingnya lingkungan hidup yang sehat.
Lebih dari itu,
Car Free Day merupakan simbol bahwa perubahan perilaku dan tata kelola perkotaan dapat dimulai dari sebuah langkah sederhana, yaitu memberikan kembali ruang jalan kepada manusia.
Inisiator
Car Free Day, Ahmad Safrudin mengatakan, kemacetan kronis ditandai oleh speed lalu lintas pada rata-rata 14 km/jam (idealnya 40 km/jam), pencemaran udara stagnan dengan rata-rata tahunan konsentrasi paparan PM2.5 masih di atas 45 µg/m3 (baku mutu udara ambient PM2.5 adalah 15 µg/m3), ruang publik tergerus komersialisasi lahan, agregat emisi CO2 kendaraan bermotor mencapai 101,2 juta ton/tahun; angka nasional 300,3 juta ton/tahun (KPBB, 2026)”.
"Pada konteks tersebut,
Car Free Day memiliki relevansi yang semakin penting," kata Safrudin.
Menurut Safrudin, sesungguhnya CFD bukanlah kegiatan rekreasi mingguan, melainkan instrumen untuk solusi menghadapi tantangan perkotaan di atas, selain edukasi publik dan bagian dari upaya mendorong transformasi sistem transportasi perkotaan berkelanjutan (sustainable urban transport), sehingga menjadi kota yang sehat, aksesible, inklusif dan berkelanjutan.
Safrudin mengingatkan, bahwa melalui
Car Free Day dimaksudkan mengajak masyarakat untuk mengurangi ketergantungan penggunaan kendaraan bermotor pribadi dengan merubah
lifestyle pada s
ustainable urban mobility; yaitu budaya berjalan kaki, bersepeda, serta menggunakan angkutan umum masal dalam melakukan perjalanan sehari-hari, baik untuk ke tempat kerja, ke sekolah, berbelanja ke pasar, ke tempat-tempat ibadah, atau berekreasi, dan lain-lain.
Apabila mengurangi ketergantungan penggunaan kendaraan bermotor ini dapat berlangsung sebagai sebuah gerakan yang dilakukan oleh orang banyak, maka akan mampu menurunkan beban kemacetan lalu lintas, pencemaran udara dan penghematan energi terutama BBM.
Peringatan ke-24
Car Free Day ini hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam mengembangkan kebijakan perkotaan yang humanis yang ditandai oleh penurunan tantangan perkotaan di atas.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin mengatakan, upaya
Car Free Day ini sejalan dengan prinsip
avoid, shift, and improve pada
Transport Demand Management (TDM), yaitu pengelolaan kebutuhan transportasi dengan menghindari perjalanan yang tidak diperlukan, mengalihkan perjalanan ke moda transportasi yang lebih berkelanjutan, serta meningkatkan efisiensi dan kinerja teknologi kendaraan.
“Kita harus menyadari bahwa pengendalian pencemaran udara tidak cukup hanya mengandalkan teknologi kendaraan yang lebih bersih. Diperlukan pula perubahan pola mobilitas masyarakat, peningkatan kualitas angkutan umum, pengembangan fasilitas pejalan kaki dan pesepeda, serta pengelolaan lalu lintas yang berorientasi pada keselamatan dan kesehatan masyarakat,” kata Budi.
Karena itu, Budi menegaskan bahwa
Car Free Day harus menjadi bagian dari strategi yang lebih luas dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota yang rendah emisi, sehat, dan berketahanan terhadap perubahan iklim.
Selain dampak lingkungan, CFD terbukti memberikan
multiplier effect ekonomi yang signifikan. Data CFD Indonesia tahun 2025 mencatat bahwa satu kali penyelenggaraan CFD di koridor Sudirman-Thamrin mampu memicu perputaran ekonomi bagi UMKM sebesar Rp500 juta hingga Rp1,5 miliar, serta sektor HOREKA (Hotel, Restoran, dan Katering) mencapai Rp3 miliar hingga Rp9 miliar.
BERITA TERKAIT: