Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengimbau masyarakat tetap waspada dan memantau perkembangan melalui berbagai kanal informasi resmi pemerintah.
"Kejadian gempa dengan magnitudo sekitar 5,9 itu tidak mengakibatkan tsunami dan tidak sampai memicu kerusakan. Karena episentrum gempanya ada di kedalaman 376 kilometer," kata Kepala BPBD DKI Jakarta, Maruli Sijabat, Minggu, 13 September 2026.
Adapun pusat gempa tepat berada di sebelah utara Pulau Payung Besar, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Memperhatikan lokasi episentrum dan kedalaman hiposenternya, ini merupakan jenis gempa bumi dalam akibat aktivitas intraslab.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser turun (oblique normal). Hasil monitoring BMKG menunjukkan belum adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).
Selanjutnya soal isu megathrust dan sesar aktif yang berkembang belakangan ini, Maruli memandang hal tersebut merupakan pengingat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, bukan sebagai alasan untuk panik.
Menurutnya tidak ada yang tahu kapan gempa terjadi dan tidak ada yang bisa memprediksi tanggal terjadinya. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama BMKG dan seluruh unsur terkait terus memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan. Masyarakat juga diimbau harus mulai dari hal sederhana sebagai mitigasi.
"Tahu tempat aman, tahu jalur evakuasi, menyiapkan keluarga dan memahami apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi," tandasnya.
BERITA TERKAIT: