Saat memimpin upacara di Kantor Pusat Kementerian Agama, Jakarta, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat beragama memperkuat empati dan mengoptimalkan filantropi keagamaan sebagai bentuk nyata kepedulian sosial.
“Mari kita ulurkan tangan untuk peduli dan membantu korban gempa. Inilah agama yang hadir, yang tidak hanya bicara tentang langit, tetapi juga bekerja untuk bumi,” pesan Menag di Jakarta, Senin 17 Agustus 2026.
“Saat saudara-saudara kita berduka karena gempa bumi, mari tengadahkan tangan kita untuk berdoa kepada Zat Yang Maha Berkehendak, kiranya mereka yang wafat diberikan kemuliaan di sisi-Nya. Bagi mereka yang sakit segera diberikan kesembuhan. Dan bagi meka yang terdampak diberikan ketabahan dan percepatan pemulihan, baik lahir maupun batin,” sambungnya.
Dalam pesan kerukunan, Menag menegaskan kemerdekaan lahir dari pengorbanan para pejuang dan tokoh lintas agama. Kerukunan adalah modal dasar pembangunan yang terbukti lewat peningkatan Indeks Kerukunan Umat Beragama (77,89) serta Indeks Kesalehan Umat Beragama (84,61) pada 2025.
“Kondisi ini harus kita syukuri. Jangan biarkan perbedaan jadi alasan bermusuhan. Jangan biarkan agama jadi alasan saling menjauh. Jadikan agama dan nilai-nilainya sebagai jalan untuk saling menguatkan dan memberikan makna kehidupan,” pesan Menag.
“Rumah ibadah harus menjadi tempat yang menenteramkan. Madrasah, pesantren, majelis taklim, sekolah minggu, pasraman, widyalaya, dan ruang kajian keagamaan harus menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan akhlak. Agama harus menjadi sumber pencerahan, kedamaian, serta kemaslahatan,” lanjutnya.
Upacara yang dihadiri Wamenag Romo Muhammad Syafi’i, jajaran pejabat, ASN Kemenag, serta tokoh agama ini dirangkaikan dengan penyerahan penghargaan Satyalancana Karyasatya bagi ASN atas pengabdian 10, 20, dan 30 tahun.
BERITA TERKAIT: