Perayaan yang digelar di Smart Auditorium Adikarsa Keteknikan, Kampus FTUI Depok tersebut dibuka oleh Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Akademik Prof. Mahmud Sudibandriyo, dan diisi kuliah umum oleh Sekretaris Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Sekretaris Utama BKPM, Mohamad Rudy Salahuddin.
Mahmud Sudibandriyo mengatakan, FTUI memiliki peran strategis dalam melahirkan inovasi yang tidak hanya memperkuat daya saing industri, tetapi juga mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
“FTUI telah membuktikan diri sebagai kekuatan utama tridarma di UI sekaligus ruang lahirnya solusi nyata bagi bangsa. Aktivitas engineering di FTUI hari ini dituntut mampu menghadirkan inovasi yang memperkuat daya saing industri dan aspek keberlanjutan,” kata Mahmud dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis 23 Juli 2026.
Dalam rangkaian acara tersebut, Mohamad Rudy Salahuddin, menyampaikan kuliah umum mengenai transformasi industri nasional melalui hilirisasi dan inovasi teknologi.
Rudy menjelaskan, realisasi investasi pada semester pertama 2026 menunjukkan sektor hilirisasi masih menjadi salah satu pendorong utama investasi nasional dengan kontribusi sekitar 30 persen atau mencapai Rp300,1 triliun. Menurutnya, arah kebijakan tersebut juga ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja serta mendorong pemerataan ekonomi.
Rudy menilai keberhasilan program hilirisasi sangat bergantung pada kemampuan penguasaan teknologi dan penguatan riset di perguruan tinggi.
Agenda hilirisasi tidak boleh stagnan hanya di pengolahan tahap awal. Nilai tambah terbesar sesungguhnya terletak pada penguasaan teknologi, desain, dan inovasi ilmiah.
"Di sinilah saya ingin memberikan penekanan fundamental: hilirisasi nasional mustahil sukses tanpa keterlibatan penuh dari perguruan tinggi, kata Rudy.
Menurut Rudy, pemerintah juga terus mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah melalui berbagai skema insentif, termasuk dukungan bagi riset dan pengembangan di lingkungan kampus.
Menanggapi hal tersebut, Dekan FTUI Kemas Ridwan Kurniawan mengatakan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
"Kampus tidak boleh lagi sekadar menjadi tempat belajar secara pasif, melainkan harus menjelma menjadi tempat lahirnya solusi dan ruang bertemunya ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata industri, kata Kemas.
BERITA TERKAIT: