PFII: Peluang Strategis atau Sekadar Label Baru?

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/kenny-wiston-5'>KENNY WISTON</a>
OLEH: KENNY WISTON
  • Rabu, 19 Agustus 2026, 13:51 WIB
PFII: Peluang Strategis atau Sekadar Label Baru?
Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Kecil Besar
INDONESIA baru saja mengambil langkah berani. Disahkannya Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) pada Juli 2026, disertai penetapan lokasi di Jakarta dan Bali, menandai masuknya kita ke kompetisi pusat keuangan global. Ambisinya jelas: menarik modal dunia, memperdalam pasar keuangan, dan menempatkan Indonesia sebagai hub yang diperhitungkan.
HUT RMOL news

Namun ambisi saja tidak cukup. Singapore dan Dubai telah jauh melangkah di depan. Pertanyaannya sederhana: apakah PFII akan menjadi terobosan nyata, atau hanya kawasan dengan nama megah tanpa substansi?


Mengapa PFII Mendesak

Indonesia memiliki keunggulan yang jarang dimiliki negara lain: ekonomi riil yang besar, pasar domestik 280 juta jiwa, posisi geografis strategis, serta kebutuhan pembiayaan infrastruktur dan transisi energi yang sangat besar. Sayangnya, selama ini modal global lebih memilih Singapore atau Dubai karena kepastian hukum, kecepatan, dan ekosistem yang sudah teruji.

PFII dirancang sebagai jawaban atas ketertinggalan itu. Kawasan ini menawarkan insentif agresif, tax holiday hingga 50 tahun, repatriasi modal bebas, penggunaan valuta asing, dan bahasa Inggris sebagai bahasa kontrak. Lebih dari itu, PFII dilengkapi pengadilan khusus, lembaga arbitrase, serta regulator tersendiri. Tujuannya satu: menciptakan kepastian hukum setara standar internasional.


Belajar dari DIFC, Bukan Sekadar Meniru

Model terdekat adalah Dubai International Financial Centre (DIFC). DIFC berhasil karena tiga fondasi: sistem common law yang murni, regulator independen, dan pengadilan yang kredibel serta cepat. Singapore unggul di integritas sistem dan kedalaman ekosistem.

PFII meniru banyak elemen tersebut. Perbedaannya mendasar. DIFC dan Singapore telah membangun reputasi selama puluhan tahun. PFII baru lahir. Reputasi tidak bisa diundangkan. Ia hanya bisa dibuktikan melalui praktik.


Rekomendasi agar PFII Berhasil

Agar tidak berhenti di level wacana, beberapa hal kritis harus segera dieksekusi:

Pertama, kepastian hukum harus lebih baik dari kompetitor
Pengadilan PFII wajib benar-benar independen. Rekrut hakim ad hoc kelas dunia, publikasikan putusan secara transparan dalam bahasa Inggris, dan pastikan eksekusi berjalan cepat serta dapat diandalkan. Tanpa ini, investor global akan tetap memilih Singapore atau Dubai.

Kedua, regulator harus mandiri total
LPJK PFII tidak boleh menjadi perpanjangan tangan OJK. Batas yurisdiksi harus tegas. Pengawasan harus proporsional, berbasis risiko, dan berorientasi pada kecepatan tanpa mengorbankan integritas. Tumpang tindih kelembagaan akan membunuh kepercayaan sejak dini.

Ketiga, bangun ekosistem, bukan sekadar kawasan
Tarik family office dan fund manager besar dalam tiga tahun pertama. Sediakan one-stop service yang lebih cepat dari Singapore dan Dubai. Golden visa serta kemudahan bagi talenta asing harus nyata, bukan hanya janji di atas kertas.

Keempat, manfaatkan keunggulan unik Indonesia 
Singapore dan Dubai tidak memiliki akses langsung ke proyek infrastruktur, hilirisasi, energi hijau, dan pasar domestik sebesar Indonesia. Jadikan PFII sebagai pintu masuk modal global ke aset riil nasional. Inilah differentiated value yang sesungguhnya.

Kelima, jaga reputasi dengan ketat
Tax holiday panjang adalah daya tarik, tetapi harus dijalankan dengan disiplin anti-pencucian uang dan transparansi beneficial ownership. Jangan sampai PFII dipersepsikan sebagai tax haven.


Penutup

PFII adalah peluang strategis yang jarang datang. Jika dieksekusi dengan disiplin, khususnya di bidang hukum dan kelembagaan, Jakarta dan Bali berpeluang menjadi alternatif serius bagi modal global dalam satu dekade ke depan. Jika setengah-setengah, ia hanya akan menjadi label baru di peta yang sudah ramai.

Singapore menang karena kepercayaan. Dubai menang karena kecepatan dan gaya hidup. Indonesia hanya bisa menang jika menawarkan kepastian hukum yang lebih baik, ditambah akses ke ekonomi riil yang tidak dimiliki keduanya.

Bola ada di tangan kita. Saatnya membuktikan, bukan sekadar mengumumkan. rmol news logo article


Penulis adalah Praktisi Hukum


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA