Perdebatan bermula ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak atau regu C2 menjawab pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Jawaban tersebut dinilai kurang tepat oleh dewan juri, Dyastasita, yang diketahui menjabat Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI.
Namun situasi berubah ketika peserta dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban dengan substansi serupa dan justru dinyatakan benar oleh dewan juri.
Keputusan itu memicu keberatan dari regu C2. Salah satu peserta, Josepha Alexandra, secara sopan meminta dewan juri mempertimbangkan ulang penilaian dengan melihat respons dan pendapat penonton di arena lomba.
Berdasarkan penelusuran redaksi melalui akun resmi media sosial SMAN 1 Pontianak, Josepha diketahui merupakan siswi kelas XI.
Sikap Josepha yang berani dan kritis dalam mengoreksi jalannya lomba mendapat banyak pujian dari warganet di media sosial. Banyak yang menilai keberaniannya menunjukkan ketelitian sekaligus sikap sportif dalam kompetisi.
“Funny how the replay accidentally exposed whose ‘feelings’ were actually wrong… C2 izin muncul ke permukaan,” tulis Josepha melalui akun Instagram pribadinya, Senin, 11 Mei 2026.
Di tengah polemik tersebut, SMAN 1 Sambas tetap keluar sebagai juara dan resmi menjadi wakil Provinsi Kalimantan Barat pada LCC Empat Pilar MPR RI tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada Agustus mendatang.
SMAN 1 Sambas unggul atas SMAN 1 Pontianak yang menempati posisi kedua dan SMAN 1 Sanggau di peringkat ketiga. Kompetisi tingkat provinsi ini diikuti sembilan sekolah hasil seleksi dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat.
Hingga kini, polemik penilaian dalam LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar tersebut masih ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet mendesak dewan juri maupun pembawa acara memberikan klarifikasi terbuka sekaligus menyampaikan permintaan maaf agar polemik tidak terus berlarut dan menimbulkan kesan ketidakadilan dalam ajang kompetisi pelajar tersebut.
BERITA TERKAIT: