Pria asal Jakarta itu turut berpartisipasi bersama puluhan pembuat film lainnya mengangkat bisnis berkedok agama yang sering ditemui di lingkungan masyarakat Indonesia.
Mirza bercerita, film pendek karyanya tersebut ingin menyampaikan kritikan kepada para oknum yang menggunakan konsep religius untuk meraup pundi-pundi keuntungan.
Sutradara muda Mirza mengatakan film pendeknya tayang dalam ajang Balinale 2025 di XXI Icon Mall, Sanur, Selasa 2 Juni 2026. Di mana festival film international tersebut pada tahun ini menampilkan 94 film Dari 38 negara di Bali.
“Filmnya durasi 15 menit. mengisahkan seorang ustaz yang menjual garam ruqyah demi keuntungan pribadi. Untuk sarana pengusir gangguan gaib yang tidak memiliki keistimewaan apapun,” kata Mirza.
Menurut Mirza, ide film pendek Holy Salt lahir dari keresahan yang ia temui langsung di masyarakat. Sebagai seorang muslim dan alumnus pesantren, ia mempertanyakan praktik penjualan berbagai produk yang mengatasnamakan agama namun dijual dengan harga berkali-kali lipat dari nilai aslinya.
“Kita hidup di negara yang masyarakatnya sangat religius. Justru karena itu, kepercayaan sering dimanfaatkan menjadi komoditas bisnis,” tutur Mirza.
Tak hanya sekedar membuat tema dengan isu tersebut, Mirza dan rekan-rekannya juga melakukan riset di lingkungan masyarakat. Ironinya, Mirza malah menjadi korban penjualan garam ruqyah itu.
Garam itu dibandrol dengan harga puluhan ribu disertakan tulisan pendek di belakang kemasannya tata cara penggunaannya dan doa apa saja yang dipakai.
“Kepercayaan itu hak setiap orang. Tapi ketika kepercayaan diperdagangkan dan dimanfaatkan untuk mencari keuntungan dari masyarakat yang awam, di situlah masalahnya,” tegas Mirza.
Film pendek itu Mirza akui berawal dari proyek tugas kampus sebagai mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Alih-alih hanya tugas kuliah, Mirza malah tertarik menjadikan tugas itu menjadi film pendek yang diikutsertakan dalam festival film international Balinale 2026.
“Anggaran sekitar Rp30 juta, produksi film melibatkan tujuh kepala departemen, sekitar 45 kru, serta enam pemeran. Proses pembuatan tiga bulan, syuting dua hari, dan pascaproduksi satu bulan,” pungkasnya.
*
Kontributor Bali
BERITA TERKAIT: