Peringatan Hari Kartini 2026, Ini Profil RA Kartini dan Kisahnya

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/tifani-5'>TIFANI</a>
OLEH: TIFANI
  • Senin, 20 April 2026, 16:55 WIB
Peringatan Hari Kartini 2026, Ini Profil RA Kartini dan Kisahnya
Ilustrasi Profil Singkat R.A Kartini (Sumber: Gemini Generated Image)
rmol news logo Peringatan Hari Kartini diperingati setiap 21 April. Hari ini menjadi momen untuk mengenang jasa dan perjuangan Raden Ajeng Kartini sebagai tokoh nasional yang gigih memperjuangkan hak-hak dan pendidikan bagi perempuan.

RA Kartini merupakan salah satu pahlawan perempuan Indonesia yang hidup di tengah kuatnya budaya patriarki pada masanya. Kondisi tersebut membatasi ruang gerak perempuan, termasuk dalam hal pendidikan. 

Meski begitu, Kartini tetap berjuang untuk memperjuangkan kesetaraan bagi kaum perempuan.

Profil Singkat R.A Kartini


Mengutip laman Diskominfo Kebumen, Raden Ajeng Kartini merupakan putri dari Bupati Jepara. Kartini lahir dalam lingkungan keluarga priyayi atau bangsawan, karena itu ia berhak menambahkan gelar Raden Ajeng (R.A.) di depan namanya.

R.M. Sosroningrat merupakan seorang Bupati Jepara pada 1880. Selain menikah dengan Mas Ajeng Ngasirah, beliau juga menikahi gadis bangsawan yaitu Raden Ajeng Woerjan.

Pernikahan R.M. Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah dikaruniai delapan orang anak, sedangkan pernikahan R.M. Sosroningrat dan Raden Ajeng Woerjan dikaruniai tiga orang anak. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. 

Kehidupan keluarga mereka berkecukupan sehingga R.A. Kartini dan saudara-saudaranya bisa tumbuh menjadi anak sehat dan cerdas.
Status sosial keluarganya membuat ia berkesempatan mengenyam pendidikan di sekolah dasar Belanda, yaitu Europeesche Lagere School (ELS).

Namun, tingginya status sosial tidak serta-merta membuat Kartini bebas menentukan masa depannya. Ia hanya diperbolehkan bersekolah hingga tingkat dasar dan tidak diizinkan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. 

Bahkan, ia sempat mengalami masa pingitan dan tidak diperbolehkan keluar rumah hingga tahun 1898. Kondisi tersebut justru menjadi titik awal perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. 

Di Jepara, ia mulai mendirikan sekolah putri yang mengajarkan berbagai keterampilan, seperti menjahit, menyulam, dan memasak. Kartini dikenal memiliki kemampuan akademik yang baik. 

Ia mampu berbahasa Belanda dan mempelajari banyak hal secara otodidak. Melalui surat-surat yang dikirimkan kepada sahabatnya di Belanda, Kartini sering menyampaikan gagasannya tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan Indonesia serta keinginannya untuk menjadi guru.

Cita-citanya sempat menghadapi tantangan ketika ia menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Namun, sang suami justru mendukung perjuangan Kartini dan mengizinkannya mendirikan sekolah putri di Rembang, yang kini dikenal sebagai Gedung Pramuka.

Aktifitas keseharian R.A. Kartini mulai terhambat setelah mengandung anak pertamanya. Kondisi fisiknya mulai menurun sehingga beberapa kali menderita sakit.

Kartini wafat pada 17 September 1904, tak lama setelah melahirkan putranya, Soesalit Djojoadhiningrat. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964 yang ditetapkan oleh Soekarno menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini, yang juga merupakan hari kelahirannya.rmol news logo article
EDITOR: TIFANI

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA