Angka pengangguran di Aceh diproyeksikan melonjak hingga 13 persen pada tahun 2026 akibat rusaknya lahan pertanian masyarakat yang menjadi sumber utama mata pencaharian.
"Perkiraan lonjakan angka pengangguran ini adalah hasil estimasi awal dari terdampaknya area lahan pertanian atau sawah masyarakat akibat bencana banjir," kata Analis Kebijakan Publik Saman Strategic Indonesia (SSI), Jabal Ali Husin Sab, dalam keterangannya di Banda Aceh, Kamis 8 Januari 2026.
Menurut Jabal, hampir sepertiga lahan sawah di Aceh mengalami kerusakan akibat bencana. Kondisi ini berpotensi menyebabkan sepertiga tenaga kerja di sektor pertanian kehilangan pekerjaan karena tidak dapat menggarap lahan seperti sebelumnya.
"Luas area panen padi Aceh pada tahun 2024 sekitar 301.196 hektare, sementara lahan sawah terdampak bencana sekitar 89 ribu Ha atau hampir sepertiga area sawah terdampak bencana," ujar Jabal.
Data Sensus Pertanian 2023 tahap I, jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) di Aceh tercatat sekitar 646.223 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar sepertiganya atau kurang lebih 200 ribu orang berpotensi terdampak langsung akibat kerusakan lahan sawah.
"Berdasarkan estimasi awal, dari area sawah yang terdampak, maka dapat diperkirakan bahwa sekitar 200 ribu orang yang bekerja di sektor pertanian di Aceh terancam tidak dapat menggarap area sawah di tahun 2026 alias tegolong sebagai pengangguran," ujar Jabal.
Jabal menambahkan, hilangnya aktivitas pertanian akibat bencana berpotensi melahirkan pengangguran baru dalam jumlah besar pada tahun 2026, yakni sekitar 200 ribu orang.
"Jika kita membandingkan dengan jumlah angkatan kerja Aceh di tahun 2024 yang berjumlah 2,60 juta jiwa, berarti angka pengangguran di Aceh yang bertambah diperkirakan sekitar 8 persen," kata Jabal dikutip dati
RMOLAceh.
Dengan akumulasi tersebut, Jabal memperkirakan tingkat pengangguran di Aceh pada tahun 2026 dapat melonjak hingga menyentuh angka 13 persen.
BERITA TERKAIT: