Sebelum dimakamkan, digelar misa arwah di Gereja Paroki Yohanes Penginjil yang dihadiri hampir 1000 orang.
Hari Sabtu (30/3) pagi kemarin, Hugo pelajar kelas 9 SMP Tarakanita V ini pamit kepada Bapak John dan Ibu Tita, kedua orangtuanya, untuk berenang di rumah temannya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Tapi malang tak dapat ditolak, kejadian nahas menimpa Hugo. Kakinya keram, sehingga mengakibatkan ia tenggelam di kolam renang tersebut.
Tak sempat mendapat mendapatkan pertolongan, Hugo menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Sang ayah, John yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta mengaku tak mendapat firasat apapun atas kematian anak sulungnya ini.
"Tak ada firasat. Tapi pas malam sebelum dia meninggal, saya merasa badan saya tidak enak, entah karena apa. Malam itu saya gelisah. Paginya, Hugo bilang sama saya, Papa aku mau berenang di rumah teman. Lalu saya jawab, iya, tapi jangan pulang malam,†kata John kepada
Kantor Berita RMOL seusai menghadiri misa arwah di Gereja Yohanes Penginjil, Minggu (31/3).
Ratusan teman-teman sekolah Hugo menangis tersedu menyaksikan sahabat mereka terbujur kaku di dalam peti mati.
Hugo, anak yang pintar dan berprestasi. Ia dikenal rendah hati, cepat menolong teman dan sangat ramah. Semasa hidup, Hugo juga aktif dalam pelayanan di gereja menjadi anggota Misdinar Gereja Santo Yohanes Penginjil.
Gege, sang adik, yang saat ini duduk di kelas 8 SMP Tarakanita V tak henti histeris menangis memanggil kakaknya.
"Kak Hugo, aku sayang kakak. Selamat jalan, Kak,†ucap Gege sambil menangis mengiringi sang kakak menuju pemakaman.
Kepala Sekolah SMP Tarakanita V, Kris, mengajak semua guru dan pelajar SMP Tarakanita V menyanyikan lagu Mars Tarakanita untuk mengangat kepergian Hugo ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
"Selamat jalan Hugo, kami sangat menyayangimu" kata Kepala Sekolah SMP Tarakanita V di akhir sambutannya.
BERITA TERKAIT: