Hal itu diperkuat alat seismograf yang memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan stabil.
"Sampai saat ini, karena tidak ada konfirmasi pada catatan di tide gauge (alat pendeteksi tsunami) dan tidak ada aktivitas resmi kenaikan, jadi tidak ada tsunami susulan," ujar Tiar.
Kendati demikian, untuk masalah letusan gunung Anak Krakatau terpantau masih mengeluarkan erupsi sejak bulan Juni lalu.
"Kalau letusan Anak Krakatau seperti biasa, kita konfirm biasa meletus memang sudah aktif," tambah Tiar.
Lebih lanjut, BMKG mengaku telah mengeluarkan peringatan untuk gelombang pasang akibat cuaca buruk sejak 22 sampai 25 Desember 2018.
"Peringatan perairan tinggi telah diberikan di Selat Sunda, warning itu diperkirakan sampai tanggal 22 sampai 25 Desember," demikian Tiar.
[jto]