Supiah, difabel dari Lenteng Agung, Jakarta Selatan, mengaku penuh perjuangan untuk tiba di Monas. Ia menggunakan jasa angkutan aplikasi dari rumah.
Namun sesampainya di sekitar Tugu Tani, kendaraan yang ditumpanginya sulit bergerak. Ia pun didampingi putranya terpaksa turun di tengah jalan.
Duduk di kursi roda bergerak menerobos ribuan peserta Reuni 212 butuh perjuangan ekstra hingga sampai di gerbang Monas.
Beruntung ada anggota Laskar Pembela Islam yang langsung menggotong kursi rodanya memecah kerumunan.
Supiah beserta beberapa kaum difabel lainnya dari Persatuan Tunanetra Muslim Indonesia langsung ditempatkan di depan panggung utama, berderet dengan tempat awak media.
"Ya itu susah banget nyampai di sini, untung ada laskar," ungkap Supiah.
Perempuan penyandang polio berusia 50 tahun itu berharap dalam acara ini, umat Islam makin bersatu dan penuh dengan kedamaian.
“Ya harapannya cinta damai bisa terwujud, cinta agama dan sesama umat beragama ada toleransi, nggak ada tawuran-tawuran lagi," pintanya.
[wid]