Seperti yang dilakukan Mak Anti yang memanfaatkan Safari Budaya Dedi Mulyadi di Kelurahan Tanjung Pura, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Minggu (8/7) malam.
“Emak dulu juru kawih, sering manggung sama suami emak, keliling Jawa Barat bareng Dalang Cecep. Suami emak penabuh gong, tapi sudah lama meninggal. Jadi, emak harus berusaha sendiri,†kata wanita berusia 75 tahun itu saat curhat ke Dedi Mulyadi.
Menurut Mak Anti, suaminya, Rohana merupakan seorang penabuh gong andal. Dia meninggal akibat menderita sakit. Akibatnya, nenek itu harus berjibaku menjadi tulang punggung keluarga, membesarkan depalan orang anak.
Berjualan nasi bungkus menjadi profesinya sehari-hari. Kini, dari delapan anak itu, hanya tiga anaknya yang masih tinggal segubuk dengannya. Kegetiran muncul karena di dalam gubuk tersebut mereka harus tidur berdesak-desakan.
“Gubuknya di pinggir sungai dekat sini. Anak emak bareng-bareng tinggal sama anak dan istrinya di gubuk emak. Ada tiga keluarga, karena sisanya sudah bisa sendiri,†ujarnya.
Keharuan tampak di wajah keriput Mak Anti usai menerima bantuan perbaikan rumah dan modal usaha yang diinisiasi langsung oleh Dedi Mulyadi.
“Mak, ini ada hasil udunan saya dan teman-teman. Uang ini bisa emak pergunakan memperbaiki rumah. Sisanya emak bisa pakai untuk usaha,†kata Ketua Golkar Jabar itu seperti dikutip
RMOLJabar.
[ian]
BERITA TERKAIT: