Gunung Agung sempat meletus pada pukul 22.21 WIB pada Rabu (2t7/6) lalu sehingga menyebabkan terjadi pembukaan rekahan di dasar kawah.
"Jadi seolah-olah membuka katup dari lava yang keluar ke permukaan," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudi Suhendar di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (29/6).
Kondisi ini lanjutnya, menyebabkan energi yang ada di dalam gunung pberangsur-angsur keluar. Akibatnya, terjadilah gempa dan semburan lava, abu, serta emisi gas dari dalam kawah dalam frekuensi rendah. Suara gemuruh saat ini sudah tak terdengar lagi.
"Maka disimpulkan bahwa Gunung Agung itu masih dalam kondisi aktif dan sedang dalam proses aktivitas, namun sudah agak menurun dibanding kemarin," jelasnya.
Pantauan di lapangan sejak dini hari tadi, lanjut Rudi, amplitudo yang keluar dari kawah Gunung Agung hanya berupa asap kental yang isinya berupa abu vulkanik.
"Abu vulkanik yang terjadi sampai sekarang itu fraksinya halus walaupun dikeluarkan di gunungnya, tapi karena halus maka masih melayang melayang di bagian barat pulau Bali dan di bagian timur Banyuwangi, mungkin sampai Jember masih melayang di udara. Itu kondisi terakhir," paparnya.
Saat ini, diakuinya status Gunung Agung masih di level siaga 3. Pihaknya pun merekomendasikan masyarakat dan wisatawan di sekitar Gunung Agung untuk tidak melakukan pendakian dalam radius 4 kilometer dari kawah puncak.
"Masyarakat di sekitar diimbau agar senantiasa menyiapkan masker pelindung untuk mengantisipasi ancaman debu vulkanik untuk kesehatan," pungkasnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: