Mendekam Di KPK, Marianus Sae Duduki Posisi Kedua Di Pilkada NTT

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 27 Juni 2018, 15:55 WIB
Mendekam Di KPK, Marianus Sae Duduki Posisi Kedua Di Pilkada NTT
Foto/Net
rmol news logo Tersangka dugaan kasus proyek pengadaan Pemerintahan Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Marianus Sae ternyata masih punya pendukung setia.

Terbukti dengan adanya data yang dikeluarkan oleh Syaiful Muljani Research and Consulting (SMRC), Marianus yang berpasangan dengan Emilia J.Nomleni menempati urutan kedua dalam Pilkada serentak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu (27/6).

Marianus yang menjadi calon gubernur dan Emilia sebagai calon wakil gubernur, harus menelan pil pahit dengan perolehan suara sementara sebesar 26 persen.

Sementara diposisi pertama diduduki oleh pasangan dengan nomer urut 4, Viktor Laiskodat dan Josef A. Nae Soi, mereka memperoleh jumlah suara sementara sebanyak 37 persen.

Posisi ketiga diduduki oleh pasangan Esthon L. Foenay dan Christian Rotok, dengan perolehan suara sementara sebesar 19 persen.

Dan diposisi terakhir ada pasangan Benny K. Harman dan Benny A. Litelnoni dengan perolehan suara sebesar 18 persen.

Hasil tersebut bukanlah hasil akhir dari pemungutan suara karena total suara yang masuk baru sejumlah 80 persen.

Saat ini Marianus Sae masih mendekam di Rutan KPK. KPK menetapkan Bupati Ngada yang berasal dari PDIP Marianus Sae (MSA) dan Wilhelmus Iwan Ulumbu (WIU) sebagai tersangka dalam kasus proyek pengadaan Pemkab Ngada, NTT.

Wilhelmus yang merupakan salah satu kontraktor di Kabupaten Ngada disebutkan telah dijanjikan menangani proyek Kabupaten Ngada senilai Rp 54 miliar oleh Marianus Sae.

Dirinya juga kerap mendapat proyek-proyek di Kabupaten Ngada sejak tahun 2011. Wilhelmus kemudian membuka rekening atas namanya sejak 2011 dan memberikan kartu ATM bank tersebut kepada Marianus Sae.

Total uang yang diterima oleh Marianus Sae dari Wilhelmus secara tunai maupun transfer sebanyak Rp 4,1 milliar, dengan rincian pada bulan November 2017 Rp 1,5 milliar secara tunai di Jakarta.

Lalu, pada bulan Desember 2017 terdapat transfer Rp 2 milliar di rekening Wilhelmus, pada 16 Januari dan 6 Februari 2018 diberikan tunai di rumah bupati sebanyak Rp 600 juta. [fiq]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA