Menilik Peradaban Dan Pelestarian Lingkungan Di Kali Pesanggrahan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Minggu, 27 Mei 2018, 19:35 WIB
Menilik Peradaban Dan Pelestarian Lingkungan Di Kali Pesanggrahan
Foto: Ist
rmol news logo Meski tak sepopuler Sungai Ciliwung, nama Sungai atau Kali Pesanggrahan patut diperhitungkan karena menjadi bagian dari sejarah panjang peradaban Jakarta dan sekitarnya.

Menurut Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) Ali Akbar, terdapat situs-situs arkeologi prasejarah di aliran Kali Pesanggrahan yang masuk ke dalam kategori sungai dewasa. Sungai dewasa mempunyai ciri berupa kelokan-kelokan atau meander pada bagian tengahnya.

"Secara naluri manusia akan memilih bertempat tinggal dekat sumber air dan tempatnya datar. Daerah aliran sungai ketika berkelok-kelok banyak dipilih oleh manusia dimana pun karena relatif datar, airnya juga relatif bersih," kata Ali Akbar, doktor arkeologi dalam acara Lacak Artefak kerja sama MARI dengan Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana, di Hutan Kota Pesanggrahan.

Selain itu, sumber daya mineral berupa tanah lempung di kelokan-kelokan sungai terkenal sangat bagus untuk pembuatan gerabah. Karena itu, peninggalan prasejarah seperti gerabah, beliung persegi, kapak perunggu juga pernah ditemukan masyarakat di sekitar Kali Pesanggrahan.

Namun, seperti halnya di Sungai Ciliwung, penemuan masih sebatas benda atau artefak berukuran kecil. Peninggalan berupa bangunan sebelum penjajahan Belanda tidak ditemukan lantaran diduga masyarakat zaman dulu menggunakan bambu yang relatif mudah lapuk untuk membangun rumah.

"Ada kemungkinan filosofi peradabannya berbasis lingkungan. Nenek moyang di sini tidak berusaha mengubah bentuk alam. Konturnya tetap apa adanya. Bangunan menggunakan bahan alami," lanjut Ali.

Bukti peninggalan peradaban di sekitar Kali Pesanggrahan yang pernah ditemukan adalah Bukit Sangkuriang dan Bukit Kucong yang berada di sekitar Hutan Kota Pesanggrahan.

Dari benda yang pernah ditemukan, bisa ditelurusi lebih jauh tentang peradaban kuno di sini. Haji Chaerudin pada tahun 1970-an pernah mendampingi arkeolog, R.P. Soejono yang melakukan penelitian di area ini. Penemuan saat itu banyak berupa pecahan gerabah prasejarah.

Menurut Ali, arkeologi banyak melakukan penelitian di sungai yang berkelok-kelok. Oleh karena itu, kelokan sungai perlu tetap dijaga dan peninggalan purbakala harus dilestarikan. "Kalau sungai dilurusin, peninggalan arkeologi akan hilang," pungkasnya.

Hal tersebut diamini Haji Chaerudin, atau yang akrab disapa Babe Idin. Pria yang dikenal sebagai Pendekar Kali Pesanggrahan ini dikenal karena kepeduliannya dalam melestarikan Kali Pesanggrahan dan pernah memperoleh penghargaan lingkungan Kalpataru dari Presiden RI.

Awalnya, kata dia, niatnya diawali karena kekecewaannya terhadap kondisi Kali Pesanggrahan yang kian memprihatikankan karena tumpukan sampah yang menggunung.

"(Sungai) yang punya cekungan dilurus-lurusin kan gua kesel," ungkap Babe Idin di kesempatan yang sama.

Usaha pelestarian yang dilakukannya antara lain membersihkan sungai, menanam pohon-pohon bambu, serta menebar bibit-bibit ikan.

Bersama Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana yang dibentuknya, Babe Idin juga berharap banyak orang bisa berkumpul dan menikmati kelestarian alam di Hutan Kota Pesanggrahan. [sam]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA