"Sudah jadi rahasia umum bahwa di balik aksi unjuk rasa atau intimidasi kepada kelompok tertentu itu selalu ada yang mengkoordinir. Bahkan tidak jarang terungkap bahwa satu orang bisa menjadi ‘dalang’ di balik berbagai aksi demo. Oleh karena itu, pemerintah harus lebih jeli dalam melihat hal itu, face recognition ini bisa menjadi solusi," kata Anthony yang merupakan Tim Pemenangan Anies- Sandi ini melalui keterangan tertulisnya.
Fungsionaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ini berpendapat, padatnya kerumunan orang di lokasi terjadinya kericuhan sering kali menyulitkan pihak kepolisian untuk menangkap pelaku provokator dan aksi kriminal lainnya sehingga memungkinkan oknum kejahatan dapat dengan mudahnya lolos dari pemantauan. Sementara,
face recognition dapat mengindetifikasi pelaku di tempat umum.
Anthony memaparkan, teknologi
face recognition memiliki beberapa keunggulan tidak hanya mendeteksi wajah, ada analisis data di sana bagaimana sikap atau perilaku kesehariannya.
"Semacam
behavior analysis," jelasnya.
"Sudah saatnya Jakarta memiliki teknologi yang lebih mutakhir untuk preventif dan menertibkan yang kurang baik. Ini akan kami integrasikan dengan Jakarta Smart City nantinya," imbuh Anthony.
Anthony menambahkan, fitur
face recognition sudah banyak digunakan di negara - negara maju seperti di Inggris dan Tiongkok untuk mengidentifikasi pelaku pencurian di tengah kerumunan, bahkan membantu mengeliminasi kecurangan saat Pemilihan Umum.
Sebelumnya Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut ada kemungkinan hoaks di balik viral video intimidasi dari massa
#2019GantiPresiden terhadap massa
#DiaSibukKerja.Ia pun meminta Jakarta Smart City memeriksa keaslian video yang diduga memuat peristiwa pada Car Free Day (CFD), di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (29/4).
"Sekarang
kan sudah ada teknologinya
tuh bikin video hoaks. Jadi aku lagi minta Smart City pastikan dulu," ujar Sandi di Balai Kota, Jakarta, Senin (30/1) lalu.
[wid]
BERITA TERKAIT: