"Program OK Oce misalnya, nyatanya Pemerintah justru menjadi broker bagi pihak pemÂberi dana. Yang memprihatinkan bunganya sangat tinggi. KemuÂdian, rumah DP 0 Rupiah ternyaÂta Anies-Sandi sangat gagap terhadap aturan, sehingga yang sebelumnya bunga mau ditangÂgung justru dibebankan kepada pembeli. Anies-Sandi dinilai sejumlah kalangan memfasilitasi riba," kata Peneliti Senior IndoÂnesia Public Institute, Karyono Wibowo.
Menurutnya, warga dan ulama justru lebih nyaman dengan kebijakan dari Ahok. Pasalnya, program-program Ahok betul-betul meringankan warga. Soal dunia usaha misalnya, pemerinÂtahan sebelumnya menggelonÂtorkan dana bergulir bagi penguÂsaha kecil dan menengah. MerÂeka diberikan modal kemudian pengembaliannya berdasarkan bagi hasil. Sebanyak 80 persen untuk pengusaha dan 20 persen sebagai pengembalian.
Mengenai hunian, warga diberikan Rumah Susun Sewa yang biaya sewanya Rp 0 sampai Rp 15 ribu per hari. Iuran penÂgelolaan lingkungan dibebankan ke APBD karena rusun itu tetap menjadi aset pemprov.
"Program-program itu nyatanÂya lebih diterima untuk semua kalangan," tegasnya.
Sayangnya, Anies-Sandi engÂgan meneruskannya. Mereka lebih memilih membuat program yang bahkan bertentangan sama sekali dengan program Ahok. Hal inilah yang kemudian memÂbuat pemerintahan sekarang sulit bergerak karena kebijakan mereka memang tidak sejalan dengan peraturan.
"Saya kira akan banyak lagi luapan kekecewaan dari berbaÂgai kalangan di Jakarta. Sebab, kebijakan Pemprov DKI Jakarta belum berpihak pada warga misÂkin," tukasnya.
Sebagai informasi, Gubernur Jakarta Anies Baswedan digugat oleh para ulama. Itu lantaran sikap Anies yang terkesan tidak peduli ketika ulama didzolimi. Gugatan terhadap Anies ini disÂampaikan olah para ulama yang tergabung dalam Forum Umat Islam Revolusioner (FUIR).
"Kami kecewa dengan sikap Anies yang diam saja dan tak peduli mana kala para ulama diÂzolimi. Padahal Anies bisa duduk sebagai Gubernur Jakarta tak luput dari peran ulama," ungkap Koordinator FUIRMAl -Fatih, saat berorasi didepan ratusan massa di depan Gedung DPRD DKI Jakarta, di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (19/3).
Menurut Fatih, Umat Islam, Ormas Islam di bawah arahan dan komando ulama/kiai/habaib merupakan pemimpin dari geraÂkan yang di bangun umat selama proses perhelatan pilkada DKI 2016 lalu. Keinginan para ulama/ kiai/habaib untuk menghadirkan pemimpin muslim di DKI Jakarta telah berhasil dengan mengantarÂkan Anies Baswedan menduduki kursi Gubernur DKI Jakarta 2017 - 2022.
Namun ketulusan para ulama/ kiai/habaib di bawah pemimpin utamanya, Imam Besar Ummat Islam Al Muqarom Al Ustaz Habieb Rizieq Shihab dalam memperjuangkan kemenangan Anies Sandi kini menuai kekeÂcewaan dan penyesalan dari umat Islam.
"Umat Islam hari ini merasaÂkan bahwa Anies - Sandi telah mulai meninggalkan perjuangan dan menjauhi umat yang telah bersusah payah mendukungÂnya," tutur Fatih.
Indikasinya, lanjutnya, antara lain ada enam hal. "Pertama, ketika Habib Rizieq, dalam masalah sehingga harus menÂgungsi ke Arab Saudi, tidak ada satu kata pun kalimat atau inisiÂatif dari Anies untuk melakukan pembelaan," tuturnya.
Kedua, ketika Habib Rizieq akan pulang ke Indonesia, umat Islam berbondong-bondong ingin menyambutnya dan menÂimbulkan kegaduhan dan perdeÂbatan tajam di masyarakat
"Di sini Anies tak melakukan pembelaan apa-apa, Anies hanya diam," tegasnya.
Ketiga, ketika penista agama (yang bermanuver untuk melakuÂkan peninjauan kembali (PK) terhadap kasusnya sontak umat Islam kembali bergerak, Anies pun hanya diam.
Keempat, selama menjabat Gubernur DKI Anies telah melakukan apa untuk menÂegakkan agama. Judi, prostitusi, narkoba ada dimana-mana, AnÂies hanya diam saja.
Kelima, Anies hanya pandai beretorika tapi tak melakukan apa-apa untuk pembelaan umat yang ingin "syariat" ditegakkan.
Keenam, Anies hanya memanÂfaatkan umat untuk kepentingan politiknya, setelah berhasil, umat pun ditinggalkan.
Berangkat dari beberapa poin situasi keummatan di atas, maka Forum Ummat Islam RevoluÂsioner (FUIR) menilai Anies telah nyata-nyata meninggalkan para ulama/kiai/habaib dan umat Islam setelah menduduki kursi Gubernur DKI Jakarta.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan, diÂrinya bersama Anies Baswedan tidak mungkin melupakan peran para ulama. Makanya saat ingin mengambil kebijakan apapun selalu meminta masukan para pemuka agama dengan tujuan menjaga kesatuan warga DKI.
"Kita selalu minta masukan kepada ulama dalam kegiatan-kegiatan masyarakat itu melibatÂkan ulama dan kita terima kasih masukannya," kata Sandi. ***