Anomali Demokrasi Pilbup Paluta

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Selasa, 16 Januari 2018, 21:17 WIB
rmol news logo . Kehadiran calon tunggal pada Pilkada Padang Lawas Utara (Palutas) 2018 mencerminkan anomali demokrasi. Calon tunggal terjadi setelah pasangan Andar Amin Harahap-Hariro Harahap memborong seluruh partai politik dan menjadi satu-satunya pasangan yang mendaftar ke KPU Paluta.

"Ini anomali. Proses demokratisasi tidak dijalankan oleh lembaga demokrasi itu sendiri seperti parpol," kata Akademisi UIN Sumatera Utara Faisal Riza, Selasa (16/1).  

Faisal mengungkap anomali demokrasi terjadi karena demokratisasi didominasi segelintir elit, keluarga oligarki. Sehingga kekuatan figur terkonsentrasi pada satu dua nama. Beberapa hal faktor ini tercermin dari kondisi di Palutas.

"Ini biasanya berpotensi terjadi pada daerah homogen," jelasnya.

Kedua, katanya, partai politik gagal memproduksi kader calon pemimpin. Terakhir, mekanisme pencalonan melalui partai politik memiliki biaya yang besar. Di parpol banyak biaya yang harus dikeluarkan calon. Di masyarakat juga biaya sosialisasi tidak murah.

"Jadi tidak banyak figur yang berani nyalon," kata Faisal seperti dilansir Kantor Berita RMOLSumut.[dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA