Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada tiga kepala keluarga atau 15 jiwa yang mengungsi dan 44 kepala keluarga atau 129 jiwa yang terdampak dari aktivitas tanah bergerak di empat desa yakni Desa Cilebak, Bungurberes, Legokherang, dan Pata.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Soetopo menjelaskan gerakan tanah terjadi sejak Senin, (8/1) dan akan terus bergarak seiring intensitas curah hujan yang diperkirakan meningkat hingga Februari mendatang.
"Gerakan tanah secara terus menerus bisa mengancam warga," ujar Sutopo dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu (14/1).
Sutopo menambahkan kerugian materi akibat longsor tersebut yakni empat unit rumah rusak berat, delapan rusak sedang, dan 31 rumah terancam. Empat titik akses jalan pun tertutup.
Empat jalan itu menghubungkan Subang-Cilebak, Cilebak-Ciwaru, Cilebak-Legokherang, Cilebak-Legokherang/blok Batu Hideung Legokherang.
Kemudian satu akses jalan menuju kecamatan Cilebak putus total dan empat titik Jalan lingkungan tertimbun Longsor di Dusun Wage Desa Cilebak.
"Kami tengah berusaha membuka akses jalan itu. Jalan Utama Ciwaru-Cilebak sudah mulai terbuka 95 persen karena kami menggunakan alat berat," pungkas Sutopo.
[nes]
BERITA TERKAIT: