Saat menjadi Jurkamnas Rano Karno-Embay Mulya Syarief di Sunbrust, Tangerang Selatan, Sabtu (4/2), Mega menyebut Provinsi Banten dibentuk saat dirinya menjadi presiden.
Padahal sebenarnya Provinsi Banten pisah dari Jawa Barat disahkan 17 Oktober 2000 atau ketika mendiang Abdurrahman Wahid menjabat RI-1. Sementara Mega baru menjabat presiden pada 23 Juli 2001.
"Apa yang disampaikan oleh Megawati merupakan kesalahan yang sangat telak. Ada jarak waktu yang dia lupakan," kata Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima) Sya'roni kepada
Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu.
Sangat mungkin hal ini terjadi akibat faktor kealpaan semata mengingat faktor usia Mega yang sudah menginjak 70 tahun. Kalau dugaan ini benar maka dapat dimaklumi ada perjalanan sejarah yang terlupakan oleh Mega.
Namun, kalau mencermati begitu yakin Mega mengatakannya di hadapan massa kampanye, bisa jadi klaim tersebut sudah tercetak mengakar di alam bawah sadarnya. Dan kalau ini yang terjadi maka ada kemungkinan Megawati terkena gejala
post power syndrom.
"Tapi untuk sampai kepada kesimpulan ini perlu pendalaman dari ahli," katanya.
Jika dicermati ke belakang, sebut Sya'roni, Mega sebagai ketua umum partai pemenang pemilu mestinya yang paling layak maju dalam Pilpres 2014. Namun sayang karena pertimbangan lain, PDIP menyerahkan peluang emas tersebut kepada Joko Widodo, yang akhirnya dalam Pilpres 2014 berhasil mengalahkan Prabowo.
Padahal kalau saat itu yang maju sebagai capres adalah Mega, kemungkinan untuk menang juga terpampang lebar. Karena waktu itu rakyat sudah jemu dengan gaya kepemimpinan SBY, dan rakyat mengetahui yang konsisten menjadi oposisi adalah Mega.
"Tapi sayang, waktu itu Mega terlalu takut mengambil resiko dan melewatkan kesempatan terbuang percuma," katanya.
"Nah, bisa jadi keputusan ini masih disesali Mega hingga sekarang. Makanya wajar jika romantisme sebagai presiden sesekali terucap olehnya. Sayang untuk kasus Banten, Megawati membuat klaim yang salah," demikian Sya'roni.
[zul]
BERITA TERKAIT: