Analis ekonomi dan politik dari Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga mengatakan, potensi kerusahan bisa saja terjadi karena selain massa Aksi 212, ada juga ribuan buruh yang dikordinasikan KSPI akan turun dengan titik kumpul Bundaran HI sampai Istana Negara, dan akan ketemu dengan kelompok massa yang akan melakukan Sholat Jumat di seputar Monas.
Selain itu, sebut Andy, mantan kombatan ISIS yang jumlahnya sudah mencapai ratusan di Indonesia bisa saja akan bergerak untuk memprovokasi massa.
"Tidak hanya itu, ditemukannya ratusan ketapel oleh aparat Pilri dua hari lalu diduga dipersiakan untuk Aksi 2 Desember perlu diantisipasi sedini mungkin," sebutnya.
Untuk itu, Andy mengimbau aparat keamanan terutama pihak intelijen harus jeli mengamati dan memprediksi kekuatan massa yang "tidak terlihat".
Selain itu kelompok-kelompok massa yang akan melakukan Aksi 212 segera melakukan konsolidasi terhadap para kordinator lapangan aksi dan memberikan tanda kepada partisipan agar dapat dikontrol.
"Kita harapkan juga agar besok para pengusaha untuk tetap menjalankan produksinya dan mengintruksikan buruhnya agar tetap bekerja sehingga potensi buruh yang ikut demo dapat berkurang," ungkapnya.
Terakhir, tambah Andy, pemerintah juga diminta untuk tidak panik dan tidak
over action dalam menghadapi gelombang aksi massa besok, cukup dengan melakukan lokalisir kelompok yang diduga akan menimbulkan kerusahan, agar aksi tersebut bisa berjalan damai dan tertib.
[rus]
BERITA TERKAIT: