"Mereka tewas jelas-jelas karena manajemen transportasi yang kacau, bukan karena kecelakaaan," kata politikus, Djoko Edhi Abdurahman, Rabu (6/7).
Djoko yakin para korban tewas akibat manajemen contingency yang tak berjalan, panduan dari udara yang tidak ada serta pusat pelaporan darurat yang tidak berfungsi.
"Ke mana heli kepolisian, badan penanggulangan bencana, dan TNI. Ini juga jelas-jelas tersedia tapi tak ada komando dari presiden," sesal mantan anggota Komisi III DPR ini.
Pada saat peristiwa kemacetan parah puluhan kilometer itu, Presiden Joko Widodo selaku manajer tertinggi malah sibuk membagi-bagikan bahan pokok ke masyarakat.
"Jadi jelas, lini komando tidak jalan," tegas dia lagi.
Djoko juga menilai ini sudah kesekian kalinya presiden abai terhadap protokoler kepala pemerintahan.
"Ketiadaan perintah pada saat momentum krisis merupakan kesalahan fatal," ucapnya.
Ramai diberitakan media, tercatat 12 orang tewas di tengah kemacetan parah arus mudik di kawasan Brebes akibat kelelahan dan penyakit bawaan.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, Sri Gunadi Parwoko, kendaraan ambulans sulit mengevakuasi karena para korban terpencar di beberapa lokasi kemacetan.
Salah satu korban tewas adalah bayi usia 1 tahun yang diduga meninggal akibat keracunan karbon dioksida setelah mobil yang ditumpanginya terjebak macet lebih dari enam jam menjelang pintu keluar Tol Brebes Timur. Para korban lain kebanyakan terdiri dari lansia.
[ald]
BERITA TERKAIT: