Kabar tersebut dibagikan melalui akun Instagram @merapi_uncover. Dalam unggahannya, disebutkan bahwa lokasi daycare yang diduga melakukan penganiayaan telah dipasangi garis polisi.
"Kabar ini diperkuat oleh ulasan terbaru di Google Maps yang menyebutkan adanya penggerebekan oleh tim Polresta Jogja," tulis akun tersebut.
Tempat penitipan itu diduga melakukan perlakuan tak manusiawi terhadap anak-anak yang dititipkan. Dalam penggerebekan tersebut, polisi telah menetapkan 13 tersangka yang terdiri dari satu kepala yayasan, satu kepala sekolah, dan 11 orang pengasuh.
Kasus dugaan kekerasan ini turut mendapat sorotan di berbagai media sosial, sebab menyangkut keselamatan anak di ruang yang seharusnya aman.
Dampak Kekerasan pada Anak yang Harus Diwaspadai
Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 2021, tercatat ada 15.914 kasus kekerasan pada Anak di Indonesia. Terdapat 1.944 kasus kekerasan pada anak usia 1–5 tahun dan 4.892 kekerasan pada anak usia 6–12 tahun.
Sementara itu, 9.000 lebih kasus kekerasan terjadi pada anak usia 13–17 tahun. Mengutip laman Healthline, ada beberapa efek negatif yang dapat dialami seorang anak saat ia menjadi korban kekerasan seperti berikut:
1. Penurunan Fungsi Otak
Anak yang menjadi korban kekerasan juga dapat mengalami penurunan fungsi otak. Hal ini menyebabkan ia sulit memusatkan perhatian dan mempelajari hal-hal baru.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan prestasi akademik anak tersebut menurun. Tak hanya itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pengalaman traumatis, termasuk kekerasan pada anak, dapat meningkatkan risiko terjadinya demensia saat lanjut usia.
2. Lebih Sulit mengendalikan Emosi
Anak korban kekerasan akan kesulitan mengelola emosinya dengan baik. Oleh sebab itu, emosi yang dirasakan sering kali muncul secara berlebihan, seperti lebih mudah merasa marah, sedih, atau sering merasa ketakutan.
Ketidakmampuan anak untuk mengendalikan emosi ini bisa saja menetap hingga ia dewasa dan mempengaruhi perilaku serta aktivitas hariannya.
3. Sulit Membangun Relasi
Pengalaman seorang anak sebagai korban kekerasan dapat membuat ia tumbuh menjadi orang yang mudah merasa curiga dan sulit percaya pada orang lain. Akibatnya, ia sulit mempertahankan hubungan dengan orang di sekitarnya dan rentan mengalami kesepian.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa korban kekerasan anak memiliki risiko lebih besar untuk mengalami kegagalan dalam membina hubungan asmara dan pernikahan saat sudah dewasa.
4. Berisiko Lebih Tinggi Mengalami Masalah Kesehatan
Trauma akibat tindak kekerasan pada anak dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai macam masalah kesehatan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Korban kekerasan pada anak juga memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengonsumsi alkohol secara berlebihan atau bahkan narkoba sebagai coping mechanism.
5. Menjadi Pelaku Kekerasan pada Anak
Orang tua yang pernah menjadi korban kekerasan selama masa kecilnya dapat melakukan hal yang sama pada anaknya. Siklus ini dapat terus berlanjut bila korban kekerasan anak tidak mendapatkan penanganan yang tepat untuk mengatasi trauma yang dialami.
BERITA TERKAIT: