Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Ketua Satgas Covid-19 IDI: PSBB Tidak Cukup, Harus Tes PCR Secara Massif

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-satryo-1'>AHMAD SATRYO</a>
LAPORAN: AHMAD SATRYO
  • Rabu, 29 April 2020, 11:36 WIB
Ketua Satgas Covid-19 IDI: PSBB Tidak Cukup, Harus Tes PCR Secara Massif
Zubairi Djoerban/Net
rmol news logo Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah menanggulangi pandemik virus corona jenis baru (Covid-19), dianggap belum cukup.

Pasalnya, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Zubairi Djoerban, menilai, kasus corona di dalam negeri masih meningkat.

Menurutnya, ujung pangkal permasalahannya ada pada pemeriksaan sampel Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), yang belum merata.

"Kalau cuma social distancing saja tidak cukup, memang harus tes (sampel PCR) yang massif," ujar Zubairi Djoerban dalam dialog virtual di salah satu televisi nasional, Rabu (29/4).

Sebagi contoh, pendiri Yayasan Pelita Ilmu (YPI) ini menyebutkan, pemeroksaan PCR dan atau rapid test (pemeriksaan cepat menggunakan metode pemeriksaan antibodi), hanya massif dilakukan di dua daerah. Yakni DKI Jakarta dan Jawa Barat.

"Rapid test ini amat banyak (dilakukan) nomor satu di Jabar, nomor dua di Jakarta, namun di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogya, Bali dan provinsi lain masih sedikit sekali," terang Zubairi Djoerban.

Sebagai bukti bahwa rantai penularan Covid-19 bisa diminimalisir dengan tes yang massif, dokter spesialis penyakit dalam ini menyampaikan fakta yang terjadi di Jerman.

"Jerman membuktikan dengan tes massif 50 ribu per hari, itu menyebabkan Jerman dari semua negara Eropa angka kematiannya paling rendah. Saat ini masih di bawah 5 ribu dengan jumlah kasus positif 150 ribu lebih," ungkapnya.

Oleh karena itu, Zubairi Djoerban berharap kepada pemerintah, khususnya Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pusat dan daerah, untuk menggalakkan pemeriksaan sampel.

"Jadi saya harapkan provinsi lain (selain DKI Jakarta dan Jawa Barat) mulai hari ini mulai meningkatkan jumlah rapid test. Tes apapun yang ada di masing-masing, apakah yang anti bodi ataupun PCR," tuturnya.

"Jadi langsung ketahuan dan diisolasi sedemikian rupa, sehingga fokus penangannya jelas," tutup Zubairi Djoerban menambahkan. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA