Bayi malang itu bernama Ica Sofia, putri dari Ibu Emyti. Awalnya, Icha mengalami muntah-muntah dan buang air besar hingga sang ibu membawanya ke Puskesmas. Namun kurangnya syarat Kartu Keluarga (KK) menjadi kendala. Dirinya juga bahkan belum mempunyai Kartu Indonesia Sehat (KIS).
"Petugas bilang tidak bisa terima Icha karena tidak ada salinan KK. Saya sudah menjelaskan Icha beÂlum terdaftar KK karena berumur 7 bulan, tapi tetap ditolak. Kondisi anak saya saat itu lemah sekali," ujar Emtiti menceritakan.
Karena tidak adanya pertolongan, putri dari Ibu Emy itu akhirnya meninggal dunia. Kisahnya pun langsung menjadi viral di media sosial dan menimbulkan banyak kegeraÂman dari warganet.
"Suka geram sudah ada berita macem gini! Rasanya pengen ambil kekusaan buat bela orang-orang macem gini!" kesal akun @tjakrawangsa.
"Kelamaan ngurus administrasi ya, dimana hati-hati nuraninya, nggak tau yang mana yang harus didahulukan ya... atau terlalu banyak pasien yang diurus..., hmm," tulis akun @Rony_Kurniawan8.
"Miris banget liatnya bukanya pertolongan yang di dahulukan.. diÂmana jiwa kemanusiaanya," kecewa akun @ekapradika541.
"Hapus aja syarat administrasinya, syarat utama berobat haruslah pasien sakit itu ja. Tapi kalau tuÂjuan binis ya sudahlah," kata akun @0rang_Udik.
"Ini bukan sekedar kesalahan puskesmas, kesalahan total penguasa dan sistem yg ada. Ini akan berulang kalau kita masih mempertahankanÂnya," cuit akun @Zahranthaqif.
"Buat pembelajaran untuk puskesÂmas yg lain. Seharusnya dalam keadaan darurat administrasi nomer sekian," kata akun @IfulAlfiansi.
"Kenapa tidak jd pelajaran? Dan terus terulang! Kasus seperti ini kerap terjadi," sesal akun @azzizam06.
"Duka dan prihatin mendalam... RS yg minus misi sosial, masifnya korupsi, dan gemarnya masyarakat "menghambur-hamburkan" uangÂnya, pemerintah perlu membentuk lembaga gerakan2 sosial kemanuÂsiaan dan toleransi," tulis akun @ Idiotan2.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ikut geram dengan kabar tersebut. Ganjar mengatakan sudah menghubungi Bupati Brebes terkait proses penanganan medis sang bayi yang akhirnya meninggal. Dia memÂinta klarifikasi kepada sang Bupati tentang masalah administrasi yang merenggut nyawa bayi.
"Bupati saat dipanggil langsung datang, lalu Kepala dinas kesehatan (kadinkes) melakukan cek regulasi agar ke depannya bisa lebih cepat penanganan," kata Ganjar Pranowo di halaman kantor Gubernur Jateng, kemarin.
Gubernur asal PDIPerjuangan ini mengemukakan, seharusnya dari pihak puskesmas mendahuÂlukan penanganan dari pada adÂministrasi. Alasannya karana jarak rumah pasien dan puskesmas tidak jauh, sehingga dapat ditangani lebih dahulu.
"Saat saya tanya, ternyata rumahÂnya dekat, lalu puskesmas minta ambil dokumen, namun malah tidak hadir. Kejadian ini kita belajar bersama, seharusnya ‘tetangga’ kan sudah kenal. Cara ini harus diperÂbaiki dan regulasi dipermudah," terang Ganjar.
Puskesmas Sidamulya yang berada di kecamatan Wanasari, Brebes yang telat menangani bayi 7 bulan yang meninggal mengaku lalai dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP). Lalai yang diakui merupakan permasalaÂhan administrasi padahal kondisi bayi dalam keadaan darurat.
"Saya melakukan klarifikasi ke karyawan yang bertugas. Dari keterangan, petugas mengakui ada kesalahan saat melayani pasien, lalu juga sudah mengaku melanggar SOP pelayanan," kata Kepala Puskesmas Sidamulya dr Arlinda.
Bupati Brebes Idza Priyanti sudah berkunjung ke rumah korban. Dia meminta maaf atas keteledoran yang terjadi, hingga menyebabkan angÂgota keluarganya meninggal dunia.
"Kami dari Pemerintah Kabupaten Brebes, meminta maaf sebesar- beÂsarnya atas kejadian ini," ucap Idza memohon.
Warganet meminta kepada pemerÂintah untuk bertindak tegas kepada pelaku yang bertanggung jawab atas kematian bayi tersebut. "Kalau sudah begini, apa cukup dengan meminta maaf saja? Kasus seperti ini sudah kerap terjadi," kata akun @soemartono8.
"Pecat kepala dinasnya, pecat kepala puskesmasnya @ganjarpraÂnowo," tulis akun @first_dhani.
"Seharusnya semua layanan masyarakat apalagi yang dah diangÂkat sumpah, apabila berbuat Salah & menghilangkan nyawa orang diberikan HUKUMAN MATI," Kesal akun @rajoendra.
Kurangnya sosialisasi program kesehatan terhadap masyarakat kecil menjadi kendala administrasi bagi rakyat yang mau berobat. Warganet juga berduka dari kepergian sang bayi dari rumitnya regulasi kesehaÂtan di daerah.
"Birokrasi yang berbelit-belit.
Bussines oriented. Apakah SOP nya harus didahulukan administrasi daripada pasien?" tanya akun @ tyaskw.
"
Innalillahi wa innailaihi roji’un... Akankah ini akan berlanjut sampai kiamat.. Mohon tindak lanjutnya Bapak/Ibu Yth," minta akun @ khoirurroziq. ***
BERITA TERKAIT: