"Hemat saya, demam berdarah itu susah diberantas," kata Ketua Umum IDI Ilham Oetama Marsis di Jakarta, Jumat (4/3).
Dia menjelaskan, sulitnya DBD diberantas adalah karena perubahan cuaca yang tidak menentu. Cuaca yang terus berubah dari hujan menjadi cerah dan sebaliknya membuat genangan air di tempat tidak beralaskan tanah semakin banyak. Menjadi tempat favorit nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak.
Faktor berikutnya terjadi perubahan daerah desa menjadi perkotaan yang semakin banyak. Artinya, terjadi perubahan ekosistem dalam proses perubahan rural menjadi urban. Belum lagi ditambah pembabatan hutan yang membuat habitat nyamuk berpindah ke kawasan permukiman.
"Nyamuk di hutan berpindah karena hutan dibabat," beber Ilham.
Selain itu, faktor lain yang membuat penyakit DBD subur di Indonesia adalah kebiasaan masyarakat yang cenderung melakukan pembiaran terhadap genangan air bersih tempat berkembangnya jentik nyamuk.
"Masyarakat harus menghilangkan media pengembangbiakan jentik nyamuk demam berdarah," ujarnya.
Ditambahkan Ilham, nyamuk penyebab demam berdarah tumbuh subur di negara tropis seperti di Indonesia. Untuk itu, masyarakat dan instansi pemerintah harus kompak mencegah tumbuhnya penyakit demam berdarah.
Semua pihak tidak boleh membiarkan adanya genangan air tempat tumbuhnya jentik nyamuk. Selain juga pentingnya menerapkan pola hidup sehat.
[wah]
BERITA TERKAIT: