Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

FKUI: Duduk Terlalu Lama Picu Komplikasi Jantung & Diabetes

Hanya 34,8 Persen Penderita Diabetes Yang Bisa Bekerja Normal

Minggu, 12 Mei 2013, 08:10 WIB
FKUI: Duduk Terlalu Lama Picu Komplikasi Jantung & Diabetes
ilustrasi/ist
rmol news logo Kebanyakan duduk ternyata bisa menyebabkan risiko penyakit kronik, seperti penyakit jantung, diabetes, kanker atau tekanan darah tinggi lebih besar. Semakin duduk lama, semakin tinggi pula risiko penyakit kronik. Terlebih bagi oarang yang berusia 45-65 tahun. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dari total penderita penyakit diabetes hanya 34,8 persen yang bisa bekerja secara normal.

Berdasarkan penelitian da­ri Kansas State University, duduk lebih dari empat jam per hari me­miliki insiden menderita pe­nya­kit kronik seperti penyakit jan­tung, diabetes, kanker atau te­ka­nan darah tinggi lebih besar. Hal ini dikarenakan minimnya pe­­ngeluaran energi, sehingga pere­daran darah menjadi terhambat.

Makin lama waktu yang di­ha­biskan untuk duduk setiap hari, makin tinggi risikonya terkena pe­nyakit kronis. Durasi duduk di­bagi dalam empat kelompok, ya­itu duduk 4 jam per hari, 4-6 jam per hari, 6-8 jam per hari, dan le­bih dari 8 jam.

Spesialis penyakit dalam Fa­kul­tas Kedokteran Universitas Indo­nesia (FKUI), Rumah Sakit Cip­to Mangunkusumo (RSCM) Prof dr Pradana Soewondo mene­rang­kan, kebiasaan duduk lama mesti di­waspadai terutama di usia muda.

“Di negara maju, usia di atas 65 tahun paling rentan diabetes. Se­mentara di negara berkem­bang, usia 45-64 tahun. Ke­biasaan buruk harus ditinggalkan.
Jangan sampai menjadi beban peme­rin­tah,” kata Pradana di aca­ra media briefing bertajuk ‘Part­nership for Diabetes Control in In­donesia’ di Jakarta, Jumat (3/5).

Saat ini, ada sekitar 12 juta penderita diabetes di Indonesia. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) bah­kan mem­prediksi, penderita diabetes akan meningkat hingga 21,3 juta orang di tahun 2030. Indonesia masuk peringkat 4 di dunia setelah Ame­rika Serikat, China dan India.

“Jangan pernah menganggap enteng suatu penyakit. Seringkali orang tidak menganggap penting untuk melakukan pencegahan, nanti jika sudah terkena, baru menyesal,” terangnya.

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia (tingginya kadar glukosa dalam darah). Diabetes melitus dapat menga­ki­batkan kerusakan pada beberapa organ tubuh. Seperti mata saraf dan ginjal serta berpotensi ber­kem­bangnya proses penyakit aterosklerosis yang akan berefek pada gangguan jantung, otak dan organ lain dalam tubuh.

Ketua Perkumpulan Endokri­no­logi (PERKENI) Pusat ini me­nga­takan, diabetes ini dapat mem­buat penderita tidak bisa mela­ku­kan aktivitas sehari-hari. Hal ini di­ka­renakan kompli­ka­si­nya yang mem­buat kondisi tubuh ti­d­ak pu­nya kemampuan untuk bekerja lagi.

“Penderita harus rutin cek da­rah, tubuh lemas, belum lagi jika kon­di­sinya sudah parah, pasien diha­rus­kan suntik insulin. Ini bisa sa­ngat mengganggu aktivitas,” ucapnya.

Kemudian, lanjutnya, pen­derita akan memiliki umur lima tahun lebih pendek dibandingkan orang sehat. Penderita diabetes kata Prof Pradana, harus mela­kukan pengo­batan secara rutin jika ingin kon­disinya tidak se­makin buruk.

Direktur Penyakit Tidak Me­nular Dirjen P2PL Kementerian Ke­sehatan, Ekowati Rahajeng me­nambahkan, kondisi lanjutan dari diabetes yang sudah parah, bisa me­rusak retina (retinopathy), sera­but saraf yang ditandai de­ngan mati rasa (neuropathy), ga­gal jantung, stroke, hingga risiko amputasi.

“Saat ini dari total seluruh pen­derita diabetes hanya sekitar 34,8 persen yang bisa bekerja secara normal. Sisanya tidak bisa lagi melakukan aktivitasnya,” ungkap Rahajeng.

Ia menyarankan, untuk mence­gah timbulnya risiko tinggi dia­betes, perbaikan gaya hidup yang sehat, seperti mengurangi kadar gula dalam konsumsi makanan sehari-hari, menerapkan pola makan sehat dengan sayur dan buah-buahan, menyediakan wak­tu untuk rutin olahraga lima kali dalam seminggu, tidak merokok dan istirahat cukup.

Siapkan 5.000 Dokter, Pelayanan Puskesmas Perlu Digeber Agar Maksimal

Minimnya fasilitas medis dan infrastruktur pelayanan primer, Puskesmas menyebabkan pena­nga­nan penderita diabetes tidak op­timal. Padahal, penanganan dia­betes tidak harus di rumah sa­kit, tetapi bisa di tingkat layanan primer yang ada di daerahnya.

Hal tersebut diungkapkan Ke­tua Perkumpulan Endokrinologi Pusat, Prof dr Pradana Soewondo di acara diskusi kesehatan soal diabetes di Jakarta, Jumat (3/5).

Menurut Dokter Spesialis Pe­nya­kit Dalam FKUI/RSCM ini, penyakit diabetes melitus perlu ditangani dengan tepat untuk mencegah komplikasi.

“Makanya, pasien diabetes diharapkan bisa mengontrol pe­nyakitnya dengan teratur. Jangan terpusat di rumah sakit, tapi pe­layanan di tingkat layanan primer bisa dilakukan,” jelas dr Pradana.

Ia mengatakan, perawatan yang tepat dan pengobatan yang ber­kelanjutan sangat penting dalam mempertahankan kualitas hidup penderita diabetes. Pera­watan tersebut juga bisa mengen­dalikan laju prevalensi, karena penyakit ini dapat me­nim­bulkan komplikasi dan membawa comorbidity apabila tidak dirawat dengan baik.

“Diharapkan masyarakat lebih mudah mendapatkan akses kese­hatan melalui dokter umum yang telah memiliki kapasitas  melaku­kan diagnosa, pe­ngo­batan awal dan monitoring pengobatan bagi pen­derita dia­betes,” kata dr Pradana.

Tahun ini, Kementerian Kese­hatan (Kemenkes) menargetkan, pelatihan khusus penang­gu­la­ngan dan pengobatan diabetes ter­hadap 5.000 dokter umum yang bertugas di Puskesmas. Se­lain itu, sudah dilatih sebanyak 120 dokter pe­nya­kit dalam yang akan melatih sedikitnya 60 dokter umum re­gio­nal di tempatnya berpraktik.

Adapun materi pelatihan yang diberikan mencakup pengetahuan dasar akan penyakit dan faktor risiko, pengobatan dan kom­pli­kasi penyakit, serta cara ber­ko­mu­nikasi dengan pasien.

“Untuk diabetes, dokter Pus­kes­mas bisa sampai memberi obat. Kalau sudah suntik insulin harus dengan resep dokter spe­sia­lis,” kata dr Pradana Soewondo.
Sementara peningkatan mutu dokter juga akan dilakukan me­la­lui pendidikan dokter melalui pro­gram magang seusai lulus kuliah.

“Tiap peserta harus mela­por­kan sedikitnya satu pasien setiap minggu. Dilaporkan pula kondisi pasien dan terapi yang dila­ku­kan,” katanya.

Direktur Penyakit Tidak Me­nular Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan, Ekowati Rahajeng mengungkapkan, selain pena­nganan diabetes di tingkat la­yanan primer (Puskesmas), pa­sien bisa memeriksakan penya­kitnya ke Pusat Pembinaan Ter­padu (Pusbindu).

“Pusbindu dikelola oleh ma­sya­rakat dengan kader yang su­dah dilatih dokter. Pusbindu mirip Posyandu. Fungsinya lebih kepada kontrol usai pengobatan,” kata Ekowati.

Pelayanan yang bisa dida­patkan pasien di Pusbindu, antara lain pengecekan kadar gula dan te­kanan darah. Saat ini, terdapat sekitar 5.000 Pusbindu di seluruh Indonesia. Keberadaan Pusbindu diklaim mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan data Kemen­kes, terjadi penurunan tingkat pen­derita kolesterol tinggi pada 2006 mencapai 2,6 persen dari se­luruh penduduk Indonesia yang se­belumnya 7,6 persen pada 2001.

“Kita menargetkan ada 25 ribu kader yang bisa dilatih tahun ini. Keberadaan Pusbindu penting sebagai upaya mawas diri dari penyakit diabetes,” ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US