Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Serem, Gangguan Irama Jantung Mayoritas Bikin Mati Mendadak

Gejalanya Sulit Dideteksi, Hindari Makanan Berkolestrol

Minggu, 17 Februari 2013, 08:08 WIB
Serem, Gangguan Irama Jantung Mayoritas Bikin Mati Mendadak
ilustrasi/ist
rmol news logo .Jantung koroner termasuk serangan penyakit yang familiar di masyarakat. Namun, tak banyak yang tahu soal gangguan irama jantung tersebut. Gejalanya sulit dikenali.

Berbeda dengan serangan jantung atau jantung koroner yang bisa dideteksi gejalanya, gangguan irama jantung memang tidak memiliki ciri-ciri khusus. Namun jika menderita penyakit ini, pasien bisa mengalami ke­matian mendadak.

Penyakit ini terjadi karena pembuluh darah koroner meng­alami penyempitan akibat koles­terol jahat atau low density lipo­protein (LDL) yang me­ngendap. Kelebihan kolesterol LDL dalam pembuluh darah dapat me­nye­babkan penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner dan stroke.

“Gangguan irama jantung ada dua macam, iramanya bisa cepat bisa juga lambat. Namun akibat­nya sama, penderita bisa pingsan, mudah lelah, gagal jantung hing­ga mati mendadak,” jelas dokter spesialis jantung Rumah Sakit (RS) Eka Hospital Tangerang, Daniel Tanubudi saat jumpa pers The 2nd Annual East Meets West Car­diology Symposium di Ritz Carl­ton Hotel - Pacific Place, Jakarta.

Kepala Departemen Kar­dio­logi dari RS Eka Hospital ini mengatakan, jantung manusia itu sudah berfungsi dengan baik sejak berada di dalam kandungan usia tiga bulan. Irama jan­tung bisa dikatakan normal bila ber­denyut memompa darah se­ca­ra teratur sesuai aktifitas yang d­i­lakukan manusia. Saat ber­is­tirahat, irama jantung yang nor­mal, adalah 60-100 kali per menit.

Sementara, jika irama jantung seseorang beristirahat kurang atau lebih dari 60-100 kali per menit bisa dikatakan mengalami gangguan irama jantung.

Pakar penyakit jantung dr Emanoel Oepangat menuturkan, untuk menjalankan fungsi uta­manya sebagai pemompa darah, jantung memiliki “gardu listrik” dan kabel-kabel (syaraf) yang merangsang jantung untuk ber­de­nyut secara ritmis atau teratur.

“Kerusakan pada kabel atau sumber listrik akan memicu gang­gu­an irama jantung,” cetus Emanoel.

Faktor lain gangguan irama jantung, lanjut dia, bisa dipe­ngaruhi oleh gaya hidup. Makan sembarangan bisa menyebabkan penumpukan lemak dan koles­terol dalam aliran darah yang me­nyebabkan aliran dalam darah tidak mengalir sempurna.

Komite Medis Eka Hospital, dr. Sukmana Tulus Putra menga­ta­kan, cara mendeteksi gangguan irama jantung bisa melalui rekam jantung dan USG jantung.

“Kalau sudah ada gejala, pa­sien bisa konsultasi. Dari hasil rekam jantung dan USG jantung bisa terlihat, apakah pasien men­derita gangguan irama jantung atau tidak,” kata Sukmana.

Untuk pengobatan, lanjut Suk­mana, penderita gangguang ira­ma jantung bisa diberi obat untuk menormalkan gangguan tersebut. “Namun kalau gangguannya sudah berat, harus dipasang alat pacu jantung,” tegasnya.

Gejalanya Mirip Masuk Angin, Nyeri Seperti Ditusuk-tusuk

Gejala awal penyakit jantung hampir sama dengan masuk angin. Namun banyak orang meng­abaikan gejala ini. Kalau­pun ada yang mengambil tind­a­kan, lebih suka mengobati de­ngan cara tradisional. Seperti di­pi­jat atau kerokan. Memang se­te­lah dikerok, badan terasa lebih enak.

Gejala nyeri di jantung hingga sesak napas terkadang hilang sen­diri dan kadang-kadang tim­bul disertai rasa nyeri yang hebat.

“Kalau sering muncul, rasanya bisa lebih parah seperti, ditusuk-tusuk,” kata ahli penyakit jantung di Rumah Sakit Harapan Kita, Harmani Kalim.

Dia menjelaskan, rasa nyeri ini disebabkan oleh distribusi ma­kanan bagi jantung atau oksigen yang tidak bisa berjalan normal. Pa­dahal, oksigen dibutuhkan un­tuk mendukung kinerja jantung.

”Bila pasokan oksigen ber­kurang, kinerja jantung ter­gang­gu. Bahkan bisa mengakibatkan serangan jantung atau yang sering dikenal gagal jantung,” ujarnya.

Penyakit ini, kata dia, lama-kelamaan bisa menyebabkan ke­rusakan pada otot-otot jantung yang memompa darah. Keru­sa­kan tersebut akan terus ber­kem­bang seiiring pertambahan umur.

Oleh karena itu, para pakar jantung menyarankan agar lebih waspada bila mengalami kram atau nyeri pada jantung. Apalagi, bila sudah disertai sesak napas.

“Jangan cuek aja. Begitu nyeri terasa, lebih baik segera ke dokter atau ahli jantung. Jika terlambat, dokter atau ahli jantung hanya punya waktu 12 jam untuk bisa kembali melebarkan pembuluh darah tersebut,” pungkasnya.

Menurut dr Delima dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) orang yang terkena penyakit jantung butuh  perawatan intensif. Berdasar data Kemen­terian Kesehatan (K­e­menkes), sejak tahun 2007  pe­nya­kit jantung  jadi penyebab ke­matian ter­tinggi di Indonesia. Dengan, jum­lah kematian lebih dari 220.000 jiwa tiap tahun.

Sedangkan jumlah kasusnya melampaui penyakit tuberkulosis yang angka kematiannya men­capai 127.000 jiwa. Angkanya makin bertambah tiap tahun akibat gaya hidup masyarakat yang suka mengudap makanan tinggi lemak atau makanan siap saji.

Faktor gaya hidup yang tak sehat, seperti gemar merokok, menenggak alkohol berlebihan, penyakit hipertensi, diabetes dan kolesterol tinggi, turut  me­nambah deretan jumlah penderita penyakit jantung. Sekitar tujuh persen penduduk Indonesia men­derita gangguan jantung, 0,9 persen sudah didiagnosis dokter dan sisanya mengalami gejala gangguan jantung.”Penderitanya justru lebih tinggi dari pedesaan,” kata dr Delima.

Faktor tersebut, menurut dia, disebabkan masyarakat yang belum peduli pada kesehatan. Selain itu, perempuan yang men­derita penyakit jantung lebih banyak dibandingkan laki-laki.

“Faktor determinan penyakit jantung untuk penduduk di atas usia 15 tahun, antara lain diabetes melitus (39 persen), hipertensi (13,1 persen), obesitas (11,4 persen), dan perokok (9,7 per­sen),” ujarnya.

Sementara faktor gaya hidup yang berpengaruh pada risiko penyakit jantung, yaitu kurang beraktivitas fisik, merokok, pola makan tinggi lemak, dan ke­biasaan mengkonsumsi alkohol.

Berdasarkan prevalensinya, Provinsi Nangroe Aceh Darus­salam menduduki urutan pertama penyakit jantung di Indonesia, ya­kni 12,6 persen. Sementara Lam­pung urutan terakhir  2,6 persen. [Harian Rakyat Merdeka]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA