.Angka kematian ibu dan anak (AKI) saat melahirkan masih tinggi. Minimnya layanan medis dalam proses persalinan serta minimnya penggunaan alat KB menjadi salah satu penyebab.
Menteri Kesehatan (MenÂkes), Nafsiah Mboi mengatakan, tingÂginya angka kematian ini kebaÂnyakan terjadi akibat penÂdarahan oleh ibu yang melaÂhirÂkan di usia muda.
“Pendarahan kebanyakan terÂÂjadi pada ibu usia muda, sekitar 15-16 tahun. Ditambah minimÂnya penggunaan alat KB serta layanan medis,†kata NafÂsiah di acara diskusi meÂdia di Jakarta.
Menkes berharap, program penggunaan KB serta layanan medis harus ditingkatkan dalam rangka menjaga kualitas mutu anak dan kesehatan bagi ibu saat melahirkan.
“Dengan penggunaan KB serÂta memperhatikan layanan keÂÂsehatan, angka kematian ibu meÂlahirkan bisa ditekan. Kami juga akan memperkuat pelayanÂan meÂdis dan edukasi kesehatan di lapisan masyarakat di daerah terÂpencil maupun kota-kota lain,†janji Nafsiah.
Wakil Menteri Kesehatan (WaÂmenkes) Ali Ghufron Mukti meÂngatakan, saat ini AKI di InÂdoÂnesia masih berada di angka 228 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah ini 3-6 kali lebih besar dari negara ASEAN.
“Ffaktor keterlambatan menÂdapatkan penanganan medis jadi salah satu penyebab tingginya AKI di Indonesia,†kata Ali.
Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Gizi Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian KeseÂhaÂtan (Kemenkes) Slamet Riyadi Yuwono, kematian ibu melaÂhirÂkan juga disebabkan minimÂnya penggunaan alat persalinan di luar rumah sakit oleh ibu hamil dan itu berisiko meningkatkan inÂfeksi pada ibu melahirkan.
“Lebih dari 40 persen kelaÂhiran di Indonesia masih dilaÂkukan di rumah sehingga angka kemaÂtian ibu melahirkan akibat infeksi mencapai 80 persen,†kata Slamet.
Berdasarkan data Kemenkes, persalinan ibu yang dibantu teÂnaga kesehatan sebanyak 82,3 persen. Ibu yang melahirkan di rumah sakit hanya 55,4 persen. Sebagian besar kelahiran dilaÂkukan di rumah karena keterbaÂtasan akses dan ekonomi.
“Akses itu bisa dari letak geoÂgrafis, di mana letak rumah jauh dari fasilitas kesehatan atau transÂportasi yang sangat sulit dijangÂkau karena terletak di daerah terÂpencil. Atau bisa juga akses ekoÂnomi, ibu hamil takut ke fasilitas kesehatan karena tidÂak punya uang,†terangnya.
Berdasarkan Analisis Data RiÂset Kesehatan Dasar (RisÂkesda) tahun 2010, angka kemaÂtian ibu di Jawa Barat sebesar 2.280, Jawa Tengah 1.766, Nusa Tenggara TiÂmur (NTT) 642, Banten 538 dan JaÂwa Timur 500. Tahun 2011, angka kemaÂtian ibu di Jawa BaÂrat turun menjadi 837, Jawa Tengah 668, Jawa Timur 627, Banten sebesar 250 dan NTT 208.
Fakta itu sama dengan angka kematian ibu sebanyak 228 per 100 ribu kelahiran hidup. BerÂarti, setiap tahun ada 10.260 keÂmatian ibu, setiap bulan ada 855 kemaÂtian ibu, setiap minggu ada 213 kematian ibu, setiap hari ada 30 kematian ibu dan setiap jam ada 1 kematian ibu.
Hanya 61,3 persen ibu yang memeriksakan kehamilan hingÂga empat kali. Angka terseÂbut jauh berbeda dengan angka ibu hamil yang memeriksakan keÂhamilan pertama kali sebanyak 92,8 perÂsen.
Padahal, kata Slamet, perÂsaÂlinan Jaminan Persalinan (JamÂpersal) diberikan secara gratis sebanyak 4 kali, yaitu 3 bulan keÂhamilan pertama sebanyak 1 kali, 3 bulan kehamilan kedua seÂbaÂnyak 1 kali dan 3 bulan keÂhaÂmilÂan terakhir sebanyak 2 dua kali pada waktu mau meÂlahirkan.
Mengenai anggaran Jampersal, dia menjelaskan, tahun ini sebeÂsar Rp 2 triliun. Dana ini naik dibanÂdingÂkan pada 2012 sebeÂsar Rp 1,8 triliun.
Survei Deografi dan KeseÂhaÂtan Indonesia (SDKI) menyeÂbutkan, preÂsenÂtase angka kemaÂtian ibu telah meÂnunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Namun, JaÂwa Barat dan Jawa Timur masih menjadi daerah dengan angka kemaÂtian ibu tertinggi.
Anggaran Pemda Buat Persalinan Minim, Kemenkes Genjot Kemitraan Bidan & Dukun
Upaya percepatan penurunan angka kematian Ibu dan Anak di Indonesia, terus dilakukan KeÂmenkes dalam rangka mencapai angka 102 per 100.000 jumlah kelahiran hidup pada 2015 menÂdatang. Langkah tersebut di anÂtaranya menurunkan angka kematian di lima wilayah yang hingga kini masuk lima besar. Yaitu, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Kami fokus pada lima wilaÂyah itu. Untuk Jateng pada taÂhun 2011, terjadi 668 kematian ibu per 100.000 kelahiran hiÂdup. Selain itu, kami ingin meÂlaÂkuÂkan revitalisasi Posyandu seÂcara masif,†kata Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes Slamet Riyadi YuÂwono.
Selain revitalisasi Posyandu, Kemenkes mempunyai progÂram meningkatkan kemitraan bidan dan dukun, karena prinÂsipnya harus mencegah kelaÂhiran haÂnya dengan dukun saja.
“Namun kenyataannya baru 70 persen bidan yang tinggal di desa dan 30 persen yang tinggal di luar desa tempat bertugas. Ini tantangan bagi kita. Padahal, 80 persen ibu meningÂgal karena infeksi,†kata Slamet.
Slamet juga mengkritik renÂdahnya ongkos persalinan pada biÂdan yang diberikan PemerinÂtah Daerah (Pemda) yang diÂnilai kontraproduktif dalam menuÂrunkan angka kematian ibu di Indonesia. “Ada Pemda yang hanya bayar Rp 200 ribu untuk bidan tiap persaÂlinan. Ini adalah kebijakan yang tidak pro-penurunan AKI dan haÂrus segera dinaikkan,†sentilnya.
Dikatakan, melalui skema JaÂminan Persalinan (JamÂpersal), pemerintah sudah menganggarÂkan Rp 680 ribu untuk tiap wanita haÂmil, di mana Rp 500 ribu dialoÂkasikan untuk membayar bidan. â€Atau kalau didampingi duÂkun berÂanak, Rp 500 ribu itu bisa diÂatur pembagiannya,†katanya.
Rendahnya bayaran bidan, menurut dia, akan berdampak buruk pada kinerja bidan dalam persalinan. Ia mencotohkan, biÂdan yang bayarannya tidak seÂpadan, cenderung lebih sering merujuk pasien ke rumah sakit. Akibatnya, pasien terlambat ditangani dan terjadi penumÂpukan di rumah sakit.
“Itu karena bidan merasa baÂyaran yang mereka terima tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi. Sehingga saat meÂneÂmui persalinan sulit, meÂreka cenÂdeÂrung meminta rumah sakit untuk mengambil alih,†katanya.
Oleh karena itu, Slamet minta kepala daerah membuat kebiÂjakÂan yang memprioÂriÂtasÂkan hal penting ketimbang seÂkaÂdar pemÂbangunan fisik.
“Tanpa tindakan drastis dari semua pemangku kepentingan, sudah bisa dipasÂtiÂkan target Indonesia untuk meÂnurunkan AKI menjadi 102 per 100.000 ribu kelahiran dalam Millennium Development Goals (MDGs), tidak akan mungkin tercapai,†cetusnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: