Penurunan nafsu makan, nyeri otot, letih dan sakit kepala perlu diwaspadai. Pasalnya, gejala itu bisa menyebabkan penyakit hepatitis C atau liver. Penyakit ini pun bisa menyerang organ hati yang kemudian menjadi kanker. Angka kematian tiap tahunnya mencapai 12.825 jiwa.
Penderita hepatitis C terus meÂningkat. Tahun 2012, pendeÂritanya mencapai 3,4 juta orang. Angka ini melebihi jumlah penÂderita Human ImmuÂnoÂdeÂficiency Virus/Acquired Immuno DeÂficiency Syndrome (HIV/AIDS) yang menÂcapai seÂkitar 270 ribu orang.
Hal itu diungkapkan dokÂter spesialis penyakit dalam dari FaÂkultas Kedokteran UniÂverÂsitas InÂdonesia (FK-UI) Rino Alvi GaÂni dalam diskusi keÂsehatan HeÂpaÂtitis C di Jakarta, Kamis (20/12).
Menurut Rino, penyakit heÂpaÂtitis C sangat berisiko besar unÂÂtuk berkembang menjadi kroÂÂÂnis, berujung pada sirosis hati dan kanker hati yang bisa menyeÂbabkan kematian. Di InÂdoÂnesia, seÂkitar 1-4 persen penÂÂderita heÂpatitis C tiap tahun meÂninggal karena kanker hati.
“Sekitar 20-25 persen lainnya mengalami sirosis hati, yang biÂsa membuat hati mengecil dan meÂngeras dehingga kinerja hati menjadi buruk,†jelas Rino.
Kebanyakan penderita HIV/AIDS, kata Rino, rentan terkena hepatitis C. Penyakit ini bisa diÂsebabkan melalui pemakaian jaÂrum suntik. Seperti tindik, tato, penggunaan narkoba suntik, penggunaan peralatan medis yang tidak steril dan transfusi darah yang berisiko tertularnya penyakit berbahaya ini.
Berdasarkan data Globocan yang dirilis The International Agency for Research on Cancer (IARC), tahun 2008 tercatat seÂbaÂnyak 748.000 kasus kanker hati yang terdiagnosa dan 85 persen kasus terjadi di negara-negara berÂkembang, termasuk IndoÂnesia.
Kini, kanker hati menjadi peÂnyakit dengan angka kematian tertinggi ketiga sebanyak 696.000 pasien meninggal dunia setiap tahun. Di Indonesia, terdaÂpat 13.238 kasus kanker hati deÂngan angka kematian mencapai 12.825 jiwa.
“Angka ini diperkirakan akan terus naik seiring meÂningkatnya prevalensi penderita hepatitis B dan C di Indonesia,†katanya.
Virus hepatitis C, kata RiÂno, akan terus berkembang cepat dan sekitar 10-30 persen orang yang terinfeksi selama lebih dari 30 tahun akan mengalami sirosis.
“Sirosis lebih banyak terjadi pada orang yang terinfeksi heÂpatitis B atau HIV, pecandu alÂkohol. Orang yang terkena siroÂsis memiliki risiko 20 kali lebih beÂsar terkena kanker hati,†teÂrang dokter kelahiran WaÂtamÂpone, Sulawesi Selatan ini.
Namun sayangnya, lanjut RiÂno, tidak ada gejala khusus yang terlihat dari hepatitis C. Hal ini yang tidak disadari oleh penÂdeÂritanya sehingga pasien datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan kronis dan sulit untuk disemÂbuhkan.
â€Biasanya kalau sudah posiÂtif terkena hepatitis C, penderita meÂngalami penurunan nafsu makan, nyeri otot, letih dan saÂkit kepala,†jelas Rino.
Jika sudah berkembang menÂjadi penyakit sirosis hati, jelas Rino, bisa meÂnyebabkan tekanÂan darah tinggi pada vena yang meÂngalir ke hati, akumulasi cairan di perut, mudah memar atau berÂdarah, vena meÂlebar, khuÂsusnya di lambung dan esoÂfagus, sakit kuning (kulit meÂnguning) akibat meningkatnya bilirubin dalam plasma darah dan kerusakan otak.
Direktur Pengendalian PeÂnyaÂkit Menular Langsung DiÂrektorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan LingÂkungan (Ditjen P2PL) KeÂmenÂteÂrian KeÂsehatan HM Subuh meÂngatakan, kasus hepatitis C di Indonesia menyerupai guÂnung es, tampak hanya sedikit, namun sebenarnya banyak kaÂsus yang tidak terlihat.
“Ini dikarenakan minimnya gejala yang dialami oleh penÂdeÂrita sehingga mayoritas pengiÂdapnya tidak menyadari telah terÂinfeksi,†ucapnya.
Biaya Obat Mahal, 80 % Pasien Hepatitis C Sulit Ditolong
Penanganan penyakit hepaÂtitis C di Indonesia dinilai masih minim. Mahalnya biaya pengoÂbatan serta terapi penyakit, memÂbuat tingkat prevalensi penderita hepatitis C makin meningkat.
Menurut dokter spesialis peÂnyaÂkit dalam dari Fakultas KeÂdokÂteran Universitas Indonesia (FKUI) Rino Alvi Gani, untuk meÂnekan angka penderita heÂpaÂtitis, diperlukan langkah tepat dengan memperluas akses peÂngoÂbatan bagi penderita hepaÂtitis C yang tidak mampu.
“Penyakit kanker hati sangat mempengaruhi kehidupan paÂsien beserta keluarganya. Tak jarang mereka mengalami keleÂlahan fisik dan mental. PeraÂwatÂan kanker hati menjadi beÂban ekoÂnoÂmi tersendiri,†jelas Rino.
Menurut dia, upaya kolaboÂrasi antara pemerintah, ahli kanÂker, perusahaan farmasi dan keÂlomÂpok advokasi, sangat diÂperlukan untuk meringankan beÂban pasien kanker hati.
“Kolaborasi ini untuk memÂbeÂrikan harapan hidup dan meÂningÂkatÂkan kepatuhan berobat bagi paÂsien penderita kanker, kaÂrena seÂkitar 70-80 persen pasien heÂpatitis C sulit tertolong,†terangnya.
Jika hepaÂtitis berkembang menjadi peÂnyaÂkit hati, kata Rino, akan menghabiskan biaya peÂngobatan lebih dari Rp 100 juta.
Direktur Pengendalian PeÂnyaÂkit Menular Langsung DirektoÂrat Jenderal Pengendalian PenyaÂkit dan Penyehatan Lingkungan (DitÂjen P2PL) Kementerian KeÂseÂhatan HM Subuh mengaku, Kemenkes telah melakukan berÂbagai upaya guna menekan heÂpatitis C di Indonesia.
“Mulai dari upaya promotif preventif dengan berbagai semiÂnar serta upaya capacity building meÂlalui pelaksanaan surveilans nasioÂnal hepatitis C di 123 unit pelaporan dan di 21 provinsi paÂda 2007-2009 sehingga InÂdoÂnesia memiliki data klinis heÂpatitis C yang dapat diperÂtangÂgungjaÂwabÂkan,†ungÂkap Subuh.
Sementara dalam hal pengoÂbatan, pihaknya terus berupaya untuk berkolaborasi dengan berÂÂbagai pihak guna meÂngemÂbangÂkan solusi tepat guna dan tepat sasaran. Meski jumlah penderita terhitung tinggi, kata Subuh, samÂpai kini pemerintah beÂlum meÂlakukan penapisan massal.
“Kami harus mengkaji keÂsiapÂan dan efektivitas penapisan massal. Butuh anggaran besar. Fasilitas kesehatan dan obat juga harus disiapkan,†ujarnya.
Direktur Operasional PT Askes (Persero) Umbu M Marisi meÂngaÂÂtakan, sebagai peÂrusahaan penÂjamin kesehatan maÂsyaÂraÂkat, pihaknya telah lebih dulu menÂjaÂdi pionir dalam hal pembiaÂyaan peÂngobatan hepatitis C.
“Mengingat dampaknya yang begitu besar bagi penderita, kami memutuskan untuk membiayai pengobatan hepatitis C bagi peÂserÂta Askes yang terinfeksi,†ungkap Umbu. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: