Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Nafsu Makan Turun Dan Letih Bisa Jadi Penyebab Kanker Hati

3,4 Juta Penduduk Terinfeksi, Angka Kematian Mencapai 12 Ribu Jiwa Per Tahun

Jumat, 28 Desember 2012, 08:15 WIB
Nafsu Makan Turun Dan Letih Bisa Jadi Penyebab Kanker Hati
ilustrasi, hepatitis C
rmol news logo Penurunan nafsu makan, nyeri otot, letih dan sakit kepala perlu diwaspadai. Pasalnya, gejala itu bisa menyebabkan penyakit hepatitis C atau liver. Penyakit ini pun bisa menyerang organ hati yang kemudian menjadi kanker. Angka kematian tiap tahunnya mencapai 12.825 jiwa.

Penderita hepatitis C terus me­ningkat. Tahun 2012, pende­ritanya mencapai 3,4 juta orang. Angka ini melebihi jumlah pen­derita Human Immu­no­de­ficiency Virus/Acquired Immuno De­ficiency Syndrome (HIV/AIDS) yang men­capai se­kitar 270 ribu orang.

Hal itu diungkapkan dok­ter spesialis penyakit dalam dari Fa­kultas Kedokteran Uni­ver­sitas In­donesia (FK-UI) Rino Alvi Ga­ni dalam diskusi ke­sehatan He­pa­titis C di Jakarta, Kamis (20/12).

Menurut Rino, penyakit he­pa­titis C sangat berisiko besar un­­tuk berkembang menjadi kro­­­nis, berujung pada sirosis hati dan kanker hati yang bisa menye­babkan kematian. Di In­do­nesia, se­kitar 1-4 persen pen­­derita he­patitis C tiap tahun me­ninggal karena kanker hati.

“Sekitar 20-25 persen lainnya mengalami sirosis hati, yang bi­sa membuat hati mengecil dan me­ngeras dehingga kinerja hati menjadi buruk,” jelas Rino.

Kebanyakan penderita HIV/AIDS, kata Rino,  rentan terkena hepatitis C. Penyakit ini bisa di­sebabkan melalui pemakaian ja­rum suntik. Seperti tindik, tato, penggunaan narkoba suntik, penggunaan peralatan medis yang tidak steril dan transfusi darah yang berisiko tertularnya penyakit berbahaya ini.

Berdasarkan data Globocan yang dirilis The International Agency for Research on Cancer (IARC), tahun 2008 tercatat se­ba­nyak 748.000 kasus kanker hati yang terdiagnosa dan 85 persen kasus terjadi di negara-negara ber­kembang, termasuk Indo­nesia.

Kini, kanker hati menjadi pe­nyakit dengan angka kematian tertinggi ketiga sebanyak 696.000 pasien meninggal dunia setiap tahun. Di Indonesia, terda­pat 13.238 kasus kanker hati de­ngan angka kematian mencapai 12.825 jiwa.

“Angka ini diperkirakan akan terus naik seiring me­ningkatnya prevalensi penderita hepatitis B dan C di Indonesia,” katanya.

Virus hepatitis C, kata Ri­no, akan terus berkembang cepat dan sekitar 10-30 persen orang yang terinfeksi selama lebih dari 30 tahun akan mengalami sirosis.

“Sirosis lebih banyak terjadi pada orang yang terinfeksi he­patitis B atau HIV, pecandu al­kohol. Orang yang terkena siro­sis memiliki risiko 20 kali lebih be­sar terkena kanker hati,” te­rang dokter kelahiran Wa­tam­pone, Sulawesi Selatan ini.

Namun sayangnya, lanjut Ri­no, tidak ada gejala khusus yang terlihat dari hepatitis C. Hal ini yang tidak disadari oleh pen­de­ritanya sehingga pasien datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan kronis dan sulit untuk disem­buhkan.

 â€Biasanya kalau sudah posi­tif terkena hepatitis C, penderita me­ngalami penurunan nafsu makan, nyeri otot, letih dan sa­kit kepala,” jelas Rino.

Jika sudah berkembang men­jadi penyakit sirosis hati, jelas Rino, bisa me­nyebabkan tekan­an darah tinggi pada vena yang me­ngalir ke hati, akumulasi cairan di perut, mudah memar atau ber­darah, vena me­lebar, khu­susnya di lambung dan eso­fagus, sakit kuning (kulit me­nguning) akibat meningkatnya bilirubin dalam plasma darah dan kerusakan otak.

Direktur Pengendalian Pe­nya­kit Menular Langsung Di­rektorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Ling­kungan  (Ditjen P2PL) Ke­men­te­rian Ke­sehatan HM Subuh me­ngatakan, kasus hepatitis C di Indonesia menyerupai gu­nung es, tampak hanya sedikit, namun sebenarnya banyak ka­sus yang tidak terlihat.

“Ini dikarenakan minimnya gejala yang dialami oleh pen­de­rita sehingga mayoritas pengi­dapnya tidak menyadari telah ter­infeksi,” ucapnya.

Biaya Obat Mahal, 80 % Pasien Hepatitis C Sulit Ditolong

Penanganan penyakit hepa­titis C di Indonesia dinilai masih minim. Mahalnya biaya pengo­batan serta terapi penyakit, mem­buat tingkat prevalensi penderita hepatitis C makin meningkat.

Menurut dokter spesialis pe­nya­kit dalam dari Fakultas Ke­dok­teran Universitas Indonesia (FKUI) Rino Alvi Gani, untuk me­nekan angka penderita he­pa­titis, diperlukan langkah tepat dengan memperluas akses pe­ngo­batan bagi penderita hepa­titis C yang tidak mampu.

“Penyakit kanker hati sangat mempengaruhi kehidupan pa­sien beserta keluarganya. Tak jarang mereka mengalami kele­lahan fisik dan mental. Pera­wat­an kanker hati  menjadi be­ban eko­no­mi tersendiri,” jelas Rino.

Menurut dia, upaya kolabo­rasi antara pemerintah, ahli kan­ker, perusahaan farmasi dan ke­lom­pok advokasi, sangat di­perlukan untuk meringankan be­ban pasien kanker hati.

“Kolaborasi ini untuk mem­be­rikan harapan hidup dan me­ning­kat­kan kepatuhan berobat bagi pa­sien penderita kanker, ka­rena se­kitar 70-80 persen pasien he­patitis C sulit tertolong,” terangnya.

Jika hepa­titis berkembang menjadi pe­nya­kit hati, kata Rino, akan menghabiskan biaya pe­ngobatan lebih dari Rp 100 juta.

Direktur Pengendalian Pe­nya­kit Menular Langsung Direkto­rat Jenderal Pengendalian Penya­kit dan Penyehatan Lingkungan  (Dit­jen P2PL) Kementerian Ke­se­hatan HM Subuh mengaku, Kemenkes telah melakukan ber­bagai upaya guna menekan he­patitis C di Indonesia.

“Mulai dari upaya promotif preventif dengan berbagai semi­nar serta upaya capacity building me­lalui pelaksanaan surveilans nasio­nal hepatitis C di 123 unit pelaporan dan  di 21 provinsi pa­da 2007-2009 sehingga In­do­nesia memiliki data klinis he­patitis C yang dapat diper­tang­gungja­wab­kan,” ung­kap Subuh.

Sementara dalam hal pengo­batan, pihaknya terus berupaya untuk berkolaborasi dengan ber­­bagai pihak guna me­ngem­bang­kan solusi tepat guna dan tepat sasaran. Meski jumlah penderita terhitung tinggi, kata Subuh, sam­pai kini pemerintah be­lum me­lakukan penapisan massal.

“Kami harus mengkaji ke­siap­an dan efektivitas penapisan massal. Butuh anggaran besar. Fasilitas kesehatan dan obat juga harus disiapkan,” ujarnya.

Direktur Operasional PT Askes (Persero) Umbu M Marisi me­nga­­takan, sebagai pe­rusahaan pen­jamin kesehatan ma­sya­ra­kat, pihaknya telah lebih dulu men­ja­di pionir dalam hal pembia­yaan pe­ngobatan hepatitis C.

“Mengingat dampaknya yang begitu besar bagi penderita, kami memutuskan untuk membiayai pengobatan hepatitis C bagi pe­ser­ta Askes yang terinfeksi,” ungkap Umbu. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA