Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Kecerdasan Anak Anjlok 13 Persen Jika Menu Gizi Tak Seimbang

Pemeriksaan Dini Dalam Kandungan Dianggap Penting

Jumat, 14 Desember 2012, 08:14 WIB
Kecerdasan Anak Anjlok 13 Persen Jika Menu Gizi Tak Seimbang
ilustrasi/ist
rmol news logo Asupan nutrisi pada anak mesti dijaga secara teratur. Sebab, kekurangan gizi bisa mempengaruhi pertumbuhan fisik dan otaknya, serta membuat perkembangan kognitif anak menjadi tidak optimal.

Menurut Ketua Tim Peneliti South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) Indonesia Sandjaja, anak Indonesia kurang gizi masih tergolong tinggi. Kekurangan gizi pada anak disebabkan oleh be­berapa faktor. Di antaranya, ma­salah ekonomi dan pengetahuan.

“Kekurangan gizi masih terjadi di daerah terpencil, seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pa­pua. Hal itu dipicu karena kondisi eko­nomi dan kurangnya penge­ta­huan tentang manfaat  gizi,” ung­kap Sandjaja di acara pemaparan hasil penelitian ten­tang gizi anak, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, kekurangan gizi bisa menyebabkan anak kehilangan tingkat kecerdasan intelligence quotient (IQ) sebesar 13 persen. Selain itu, kekurangan gizi akan berdampak pada per­kem­bangan tubuh menjadi kurus dan pendek atau disebut stunting.

“Penderita stunting terjadi, karena kurangnya anak-anak mengkonsumsi makanan yang bergizi yang mengandung pro­tein, kalori dan vitamin, khu­susnya vitamin D. Anak-anak yang mengalami stunting rentan menderita penyakit degeneratif lebih besar, sehingga akan men­jadi beban Negara,”  katanya.

Berdasarkan hasil pene­li­tian­nya, sebanyak  3.300 anak ber­usia 6-12 bulan menderita ke­kurangan gizi dan berbadan pendek. Dari hasil penelitian itu, didapatkan bahwa angka mal­nu­trisi anak Indonesia mencapai 22,3 persen.

Untuk angka anak stunting di Indonesia sebanyak 34 persen. Sedangkan negara-negara Asia, seperti Malaysia mencapai  8,55 persen, Thailand 6,35 persen dan Vietnam 12,9 persen. Sementara itu, anak dengan berbadan kurus, Indonesia menempati peringkat kedua.

 Director Affairs And Regu­la­tory Affair Friesland Campina, Hen­dro Harjogi Pudjono menga­takan, asupan makanan, adalah salah satu tolok ukur menjaga kesehatan. Dengan meng­kon­sumsi makanan yang sehat, maka per­tum­buhan fisik dan otak menjadi optimal.

“Pengaruh zat gizi mikro vi­ta­min dan mineral terhadap tumbuh kembang anak sejak dalam kan­du­ngan sangatlah penting bagi kesehatan,” ujarnya.

 Direktur Bina Gizi Kemen­terian Kesehatan (Kemenkes) Minarto mengaku, telah berupaya menangani berbagai masalah gizi. Diantaranya, Keluarga Sadar Gizi dan Gerakan 1.000 Hari Pertama Awal Ke­hi­dupan. Kegiatan ini bertujuan untuk mencapai target Millennium De­velopment Goals (MDG’s) di tahun 2015.

”Agar pencapaian MDG’s lebih maksimal, diperlukan du­ku­ngan secara konsisten dari semua pihak, tidak hanya pemerintah, dunia usaha juga,” kata Minarto.

Dengan adanya penelitian me­ngenai status gizi anak Indonesa ini, kata dia, akan menjadi salah satu basis data terkait gizi anak Indonesia. Diharapkan, penelitian ini bisa segera ditangani, se­hing­ga di 2015 target MDG’s bisa tercapai.

”Nantinya hasil penelitian akan digunakan untuk memper­kaya berbagai rumusan kebijakan dan program pemerintah In­do­nesia, demi mencapai tujuan pembangunan MDG’s poin 1, 4, dan 5 yang terkait dengan ke­se­hatan,” jelasnya.

 Dokter Spesialis Gizi dari Divisi Departemen Ilmu Gizi Fa­kultas Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangun­ku­sumo (FKUI-RSCM) Luciana B Sutanto menambahkan, peme­nu­han gizi seimbang mutlak di­per­lukan oleh anak-anak dan remaja.

Terlebih fase remaja yang memer­lu­kan tenaga ekstra untuk ber­ak­ti­vitas. Kegiatan-kegiatan tersebut mampu menguras tenaga dan mem­butuhkan suplai energi yang cukup, sehingga konsumsi gizi harus terpenuhi untuk me­nun­jang aktivitas. “Anak-anak me­mer­­lu­kan asupan gizi maka­nan yang baik untuk pertumbu­han­nya, ditambah selingan maka­nan lain­nya sebanyak dua kali dalam se­hari,” ujar Luciana.

Jadwal Makan Perlu Dijaga Agar Suplai Gizi Tidak Kurang

Pemenuhan gizi secara seim­bang sejak kecil hingga dewasa sangat dianjurkan. Sebab, asupan gizi yang tidak seimbang akan membuat fisiologi tubuh meng­alami gangguan dan berisiko ter­hadap kesehatan.

Dokter Spesialis Gizi dari Di­visi Departemen Ilmu Gizi Fa­kul­tas Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Luciana B Su­tan­to mengatakan, tingginya tingkat kolesterol akibat tidak seim­bang­nya asupan gizi.

”Pola makan harus seimbang. Jumlah karbohidrat, protein, dan serat harus seimbang. Namun le­mak harus dikurangi. Ka­re­na­nya, pasien dengan tingkat ko­les­terol tinggi, sebaiknya men­dapat makanan dengan gizi seimbang,” papar Luciana dalam temu media di Jakarta.

Pakar nutrisi ini menyebutkan, bahwa asupan gizi yang tidak se­im­bang dapat membuat fisiologi tubuh secara otomatis terganggu. Salah satunya, tingginya tingkat koles­terol. Dia juga meng­ingat­kan, bagi anak-anak diusia 12-18 tahun jum­lah kalori yang di­kon­sumsi harus sesuai kebu­tuhan agar pertum­buhan fisiknya optimal.

“Keseimbangan nutrisi harus dijaga sejak dalam kandungan, sampai usia tua. Dengan begitu, kondisi tubuh akan lebih terjaga dari penyakit,” terangnya.

Selain itu, jadwal makan pun harus teratur. Sehingga suplai gizi tidak terputus, kerja otak tidak terganggu dan tetap ber­kon­sen­trasi.

Perwakilan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinis In­donesia, Razak Thaha menam­bah­kan, gizi seimbang sangat penting agar tidak terjadi masalah gizi ganda, akibat masa transisi gizi dalam tubuh seseorang.

Masalah transisi gizi terjadi, karena banyak hal yang tidak bisa terkontrol lagi. Misalnya, seperti urbanisasi, pertumbuhan eko­nomi, perkembangan teknologi, perubahan pola kerja, trans­por­tasi, proses pengolahan makanan, dan masih banyak lagi.

“Kondisi ini mengubah semua pola makan kita, asupan gizi juga menjadi berubah,” ujar Razak di Jakarta.

Untuk mencegah gizi ganda ini, menurutnya, cara yang paling tepat, adalah dengan pemenuhan gizi seimbang. Dengan peme­nu­han gizi seimbang, akan me­ning­katkan pengetahuan, mem­per­baiki sikap dan perilaku menjadi bergaya hidup sehat.

“Pemenuhan gizi seimbang ini, perlu dilakukan sejalan dengan siklus hidup, mulai dari ibu hamil hingga nanti saat lanjut usia,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA