Asupan nutrisi pada anak mesti dijaga secara teratur. Sebab, kekurangan gizi bisa mempengaruhi pertumbuhan fisik dan otaknya, serta membuat perkembangan kognitif anak menjadi tidak optimal.
Menurut Ketua Tim Peneliti South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) Indonesia Sandjaja, anak Indonesia kurang gizi masih tergolong tinggi. Kekurangan gizi pada anak disebabkan oleh beÂberapa faktor. Di antaranya, maÂsalah ekonomi dan pengetahuan.
“Kekurangan gizi masih terjadi di daerah terpencil, seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan PaÂpua. Hal itu dipicu karena kondisi ekoÂnomi dan kurangnya pengeÂtaÂhuan tentang manfaat gizi,†ungÂkap Sandjaja di acara pemaparan hasil penelitian tenÂtang gizi anak, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Dia mengatakan, kekurangan gizi bisa menyebabkan anak kehilangan tingkat kecerdasan intelligence quotient (IQ) sebesar 13 persen. Selain itu, kekurangan gizi akan berdampak pada perÂkemÂbangan tubuh menjadi kurus dan pendek atau disebut stunting.
“Penderita stunting terjadi, karena kurangnya anak-anak mengkonsumsi makanan yang bergizi yang mengandung proÂtein, kalori dan vitamin, khuÂsusnya vitamin D. Anak-anak yang mengalami stunting rentan menderita penyakit degeneratif lebih besar, sehingga akan menÂjadi beban Negara,†katanya.
Berdasarkan hasil peneÂliÂtianÂnya, sebanyak 3.300 anak berÂusia 6-12 bulan menderita keÂkurangan gizi dan berbadan pendek. Dari hasil penelitian itu, didapatkan bahwa angka malÂnuÂtrisi anak Indonesia mencapai 22,3 persen.
Untuk angka anak stunting di Indonesia sebanyak 34 persen. Sedangkan negara-negara Asia, seperti Malaysia mencapai 8,55 persen, Thailand 6,35 persen dan Vietnam 12,9 persen. Sementara itu, anak dengan berbadan kurus, Indonesia menempati peringkat kedua.
Director Affairs And ReguÂlaÂtory Affair Friesland Campina, HenÂdro Harjogi Pudjono mengaÂtakan, asupan makanan, adalah salah satu tolok ukur menjaga kesehatan. Dengan mengÂkonÂsumsi makanan yang sehat, maka perÂtumÂbuhan fisik dan otak menjadi optimal.
“Pengaruh zat gizi mikro viÂtaÂmin dan mineral terhadap tumbuh kembang anak sejak dalam kanÂduÂngan sangatlah penting bagi kesehatan,†ujarnya.
Direktur Bina Gizi KemenÂterian Kesehatan (Kemenkes) Minarto mengaku, telah berupaya menangani berbagai masalah gizi. Diantaranya, Keluarga Sadar Gizi dan Gerakan 1.000 Hari Pertama Awal KeÂhiÂdupan. Kegiatan ini bertujuan untuk mencapai target Millennium DeÂvelopment Goals (MDG’s) di tahun 2015.
â€Agar pencapaian MDG’s lebih maksimal, diperlukan duÂkuÂngan secara konsisten dari semua pihak, tidak hanya pemerintah, dunia usaha juga,†kata Minarto.
Dengan adanya penelitian meÂngenai status gizi anak Indonesa ini, kata dia, akan menjadi salah satu basis data terkait gizi anak Indonesia. Diharapkan, penelitian ini bisa segera ditangani, seÂhingÂga di 2015 target MDG’s bisa tercapai.
â€Nantinya hasil penelitian akan digunakan untuk memperÂkaya berbagai rumusan kebijakan dan program pemerintah InÂdoÂnesia, demi mencapai tujuan pembangunan MDG’s poin 1, 4, dan 5 yang terkait dengan keÂseÂhatan,†jelasnya.
Dokter Spesialis Gizi dari Divisi Departemen Ilmu Gizi FaÂkultas Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto MangunÂkuÂsumo (FKUI-RSCM) Luciana B Sutanto menambahkan, pemeÂnuÂhan gizi seimbang mutlak diÂperÂlukan oleh anak-anak dan remaja.
Terlebih fase remaja yang memerÂluÂkan tenaga ekstra untuk berÂakÂtiÂvitas. Kegiatan-kegiatan tersebut mampu menguras tenaga dan memÂbutuhkan suplai energi yang cukup, sehingga konsumsi gizi harus terpenuhi untuk meÂnunÂjang aktivitas. “Anak-anak meÂmerÂÂluÂkan asupan gizi makaÂnan yang baik untuk pertumbuÂhanÂnya, ditambah selingan makaÂnan lainÂnya sebanyak dua kali dalam seÂhari,†ujar Luciana.
Jadwal Makan Perlu Dijaga Agar Suplai Gizi Tidak Kurang
Pemenuhan gizi secara seimÂbang sejak kecil hingga dewasa sangat dianjurkan. Sebab, asupan gizi yang tidak seimbang akan membuat fisiologi tubuh mengÂalami gangguan dan berisiko terÂhadap kesehatan.
Dokter Spesialis Gizi dari DiÂvisi Departemen Ilmu Gizi FaÂkulÂtas Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Luciana B SuÂtanÂto mengatakan, tingginya tingkat kolesterol akibat tidak seimÂbangÂnya asupan gizi.
â€Pola makan harus seimbang. Jumlah karbohidrat, protein, dan serat harus seimbang. Namun leÂmak harus dikurangi. KaÂreÂnaÂnya, pasien dengan tingkat koÂlesÂterol tinggi, sebaiknya menÂdapat makanan dengan gizi seimbang,†papar Luciana dalam temu media di Jakarta.
Pakar nutrisi ini menyebutkan, bahwa asupan gizi yang tidak seÂimÂbang dapat membuat fisiologi tubuh secara otomatis terganggu. Salah satunya, tingginya tingkat kolesÂterol. Dia juga mengÂingatÂkan, bagi anak-anak diusia 12-18 tahun jumÂlah kalori yang diÂkonÂsumsi harus sesuai kebuÂtuhan agar pertumÂbuhan fisiknya optimal.
“Keseimbangan nutrisi harus dijaga sejak dalam kandungan, sampai usia tua. Dengan begitu, kondisi tubuh akan lebih terjaga dari penyakit,†terangnya.
Selain itu, jadwal makan pun harus teratur. Sehingga suplai gizi tidak terputus, kerja otak tidak terganggu dan tetap berÂkonÂsenÂtrasi.
Perwakilan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinis InÂdonesia, Razak Thaha menamÂbahÂkan, gizi seimbang sangat penting agar tidak terjadi masalah gizi ganda, akibat masa transisi gizi dalam tubuh seseorang.
Masalah transisi gizi terjadi, karena banyak hal yang tidak bisa terkontrol lagi. Misalnya, seperti urbanisasi, pertumbuhan ekoÂnomi, perkembangan teknologi, perubahan pola kerja, transÂporÂtasi, proses pengolahan makanan, dan masih banyak lagi.
“Kondisi ini mengubah semua pola makan kita, asupan gizi juga menjadi berubah,†ujar Razak di Jakarta.
Untuk mencegah gizi ganda ini, menurutnya, cara yang paling tepat, adalah dengan pemenuhan gizi seimbang. Dengan pemeÂnuÂhan gizi seimbang, akan meÂningÂkatkan pengetahuan, memÂperÂbaiki sikap dan perilaku menjadi bergaya hidup sehat.
“Pemenuhan gizi seimbang ini, perlu dilakukan sejalan dengan siklus hidup, mulai dari ibu hamil hingga nanti saat lanjut usia,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: