Gangguan jiwa yang berujung pada depresi tanpa sebab selama dua pekan berturut-turut dan tak kunjung reda, perlu diwaspadai. Bisa jadi itu salah satu indikasi gangguan kejiwaan bipolar. Penyakit ini pun sulit dideteksi dan disembuhkan secara total.
Bipolar merupakan suatu gangguan pada alam perasaan atau mood yang bisa timbul pada waktu tertentu dan suasana hati yang cepat berubah. Pada gangÂguan bipolar ini, pasien sering meÂrasa senang, hingga ingin meÂlakukan banyak hal dan sulit mengontrol keinginannya.
Namun saat merasa sedih, paÂsien sering menarik diri, meÂnyaÂlahkan diri sendiri, bahkan meÂmiÂliki kecenderungan bunuh diri. Angka kematian akibat bunuh diri yang disebabkan gangguan bipolar ini lebih tinggi dibanÂdingkan angka kematian bunuh diri dalam populasi umum.
Dokter spesialis kejiwaan FaÂkultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Suryo Dharmono mengatakan, bipolar merupakan gangguan jiÂwa yang bersifat episodik, yang ditandai depresi berkeÂpanÂjaÂngan. Sebab, gangÂguan bipoÂlar melibatÂkan gangÂguan suaÂsana hati yang ekstrem dan sulit diÂkendalikan.
“Bipolar merupakan gangguÂan kejiwaan yang bersifat kronik dan sering berpotensi bunuh diri,†kata Suryo dalam seminar media Rehabilitasi PaÂsien DeÂngan Gangguan Bipolar di JaÂkarta, Rabu (3/10).
Kepala Departemen Psikiatri RSCM Ayu Agung KuÂsuÂmaÂwarÂdhani mengatakan, angka keÂmaÂtian akibat gangguan bipolar, dua hingga tiga kali lebih tinggi dari pada skizofrenia. Namun, penyakit ini dapat dikendalikan.
“Deteksi dini, diagnosis yang akurat, terapi yang optimal daÂpat mengendalikan gejala gangÂguan ini dan memperkecil risiko bunuh diri sekaligus memÂperÂbaiki kualiÂtas hidup penderita,†jelas Ayu.
Menurutnya, penyakit bipolar masih sulit dideteksi apa peÂnyeÂbabnya. Namun, telah banyak penÂderita bipolar yang bisa kemÂbali bekerja dan berprestasi.
“Mereka sesungguhnya memiÂliki kemampuan yang potensial. Banyak anak remaja yang mengÂalami bipolar, sebelumnya meÂngÂalami penurunan kualitas hiÂdup. Kuliah terbengkalai, miÂsalÂnÂya. Tetapi setelah pengobatÂan, meÂreka bisa kembali lagi ke lingÂkuÂngan, hidup normal dan berÂprestasi,†terang Ayu.
Untuk mendeteksi adanya gangguan bipolar, menurutnya, bisa menggunakan quesioner yang disebut Mood Disorder Questionaire (MDQ) dengan melihat gejala-gejala pada paÂsien. Yaitu, perasaan gembira yang lebih dari biasanya, sangat iritaÂbel dan memiliki kepercaÂyaan diri yang tinggi.
“Gangguan ini bisa berbahaya, karena kebanyakan kasus bipoÂlar lebih banyak meninggal kaÂrena bunuh diri,†kata Ayu.
Menurut Agung, penanganan gangguan bipolar membutuhkan waktu yang lama dan usaha keras supaya kondisi pasien bisa leÂbih stabil dan kembali bekerja.
Peneliti kesehatan dari UniverÂsitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Aris Sudiyanto menambahkan, gangguan bipolar merupakan saÂlah satu penyakit multidimensi yang menyerang fisik, emosioÂnal serta sosial sekaligus.
â€Pasien akan mengalami peÂnuÂrunan kondisi fisik dan mental. Bahkan penderita merasa tidak percaya diri sampai dijauhkan oleh kerabatnya,†ungkap Aris.
Menurut Aris, deteksi dini dan dukungan keluarga harus dilaÂkukan supaya kondisi penÂderita bisa kembali stabil dan jauh dari risiko bunuh diri akiÂbat biÂpolar. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: