Di tengah minimnya perhatian masyarakat terhadap sejumlah kasus gangguan kejiwaan bipoÂlar, petugas medis atau rumah sakit (RS) diharapkan bisa menÂjadi pusat edukasi dan pusat teÂrapi yang berkelanjutan bagi paÂsien akibat gangguan bipolar.
“Kami harap rumah sakit mamÂpu memberikan pelayanan dasar terhadap pasien gangguan bipolar yang meliputi deteksi dini, konÂseling dan psikoedukasi, serta meÂÂlakukan rujukan kasus speÂsiÂalistik apabila diperlukan,†ujar dokter spesialis kejiwaan FaÂkulÂtas Kedokteran Universitas InÂdoÂnesia-Rumah Sakit Cipto MaÂngunkusumo (FKUI-RSCM) Suryo Dharmono di Jakarta, Rabu (3/10).
Menurutnya, RS harus menÂjadi pusat edukasi serta terapi yang berkelanjutan bagi pasien gangÂguan jiwa, termasuk bipolar.
“Rehabilitasi pasien melalui pelayanan dasar sangat diperÂlukan untuk menekan tingkat risiko kematian pada pasien biÂpolar,†tegas Suryo.
Selain menjadi pusat edukasi, Suryo berharap, masyarakat biÂsa mendeteksi dini terhadap gejala gangguan jiwa tersebut. Hal itu penting guna menekan risiko buÂnuh akibat bilopar.
Kepala Departemen Psikiatri RSCM Ayu Agung KusuÂmaÂwarÂdhani mengatakan, gangguan keÂjiwaan bipolar muncul umumÂnya di usia 15 hingga 24 tahun. SeÂbaÂnyak 30 persen remaja yang depresi berujung menjadi bipolar.
“Depresi pada masa remaja harus hati-hati karena sekitar 30 persen bisa menÂjadi bipolar,†warning Ayu.
Dikatakan, pemberian edukasi dan sosialisasi soal bahaya dari gangguan jiwa biÂpolar sangat perÂlu dilakukan, suÂpaya masyarakat bisa terhindar dari gangguan terÂsebut. “Tingkat kesadaÂran masÂyaÂrakat perlu ditingkatkan dan ruÂmah sakit akan menjadi pusat edukasi dalam penanganan bipoÂlar,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: