Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Perubahan Iklim Global Tingkatkan Penyakit ISPA

Perhatikan Sanitasi Lingkungan & Perilaku Hidup Sehat

Jumat, 05 Oktober 2012, 08:16 WIB
Perubahan Iklim Global Tingkatkan Penyakit ISPA
ilustrasi/ist
rmol news logo .Menjaga sanitasi lingkungan dan berperilaku hidup sehat itu sangat penting, terutama ketika perubahan iklim global terjadi seperti saat ini. Bila tidak dicegah sejak dini, bisa picu penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) meningkat.

Penyakit pernapasan ini bisa menimpa siapapun. Faktor po­lusi udara dalam ruangan, polusi luar ruangan, peningkatan suhu bumi dan kelembaban menjadi pemicu penyakit tersebut. Pe­nyakit ini ditandai dengan ba­tuk-batuk, ke­sulitan bernapas yang berujung pada kematian.

Direktur Pengendalian Pe­nyakit Menular Langsung (PP­ML) H M Subuh mengatakan, perubahan iklim saat ini perlu diwaspadai. Pencegahan harus dilakukan ka­rena sangat rentan terkena pe­nyakit pernapasan. Penyakit ini pun bisa menye­rang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga de­wasa dan terjadi pada bagian al­veoli, yang meng­akibatkan panas tinggi, batuk-batuk dan sulit ber­napas.

“Jika sudah masuk ke bawah pa­ru-paru (pneumonia), penyakit ini sulit ditangani. Gejala sesak dan susah napas, demam tinggi, dan kejang salah satu gejala ter­kena ISPA,” jelas Subuh dalam acara temu media mengenai Pe­rubahan Iklim di Gedung Ke­menkes, Jakarta, Jumat (28/9).

Menurut Subuh, penyakit ini akan terus menjadi trend sampai 30 tahun ke depan. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) ta­hun 2007-2011, sekitar 18 juta pen­duduk dilaporkan memiliki prevalensi penyakit ini.  â€Pe­nya­kit ini akan cenderung meningkat saat pancaroba datang,” katanya.

Dia menjelaskan, penyakit ISPA dibedakan menjadi dua. Yaitu,  common cold (pemicunya adalah virus rhinovirus, respi­ratory syncytial virus, adeno­virus dan influenza yang dipicu oleh virus dengan berbagai tipe.

“Virus penyebab ISPA sangat me­nular. Jangan sampai di­abai­kan. Masyarakat perlu mela­ku­kan perilaku hidup sehat sejak di­ni dengan menjaga lingkung­an, menjaga diri dan  jangan per­nah menganggap enteng pe­nyakit ini,” imbau Subuh.

Direktur Jenderal Pe­ngen­dalian Penyakit dan Penyehatan Ling­kungan Kementerian Kese­hatan, Wilfreid H Purba meng­imbau masyarakat agar waspa­da terha­dap perubahan cuaca, ter­utama untuk penyakit diare, ISPA, ma­laria, Demam Berda­rah Dengue (DBD) dan lainnya.

“Menjaga pola hidup dan sa­nitasi di lingkungan perlu dila­kukan. Sebab, kerugian ekonomi akibat buruknya sanitasi, di­per­kirakan mencapai Rp 33 tri­liun per tahun dan kerugian ekonomi diperkirakan sebesar 2,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB),” jelas Wilfreid.

Menurut Wilfreid, Kemenkes sudah menggerakkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (ST­BM) yang memfokuskan penge­lolaan hidup yang sehat. “Jika sa­nitasi baik, orang yang sakit tak perlu berobat lagi,” ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA