.Ancaman penyakit menular dan tidak menular masih menjadi momok di Indonesia. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Wilfreid H Purba meÂngatakan, penyakit menuÂlar lewat udara seperti TuberÂkulosis (TB), Influenza, dan peÂnyakit kuÂlit, kini telah menyerang seÂkitar 12 proÂvinsi dan beberapa kota besar seÂperti Jakarta, SemaÂrang, SurabaÂya dan Bandung.
Berdasarkan data KeÂmenterian Kesehatan (KemenÂkes) pada tahun 2011, sebanyak tuÂjuh proÂvinÂsi rentan penyakit ISPA. Di anÂÂtaranya, Lampung, Nusa TengÂgara Barat, Nusa Tenggara Timur, KaÂliÂmanÂtan Selatan, SulaÂwesi SeÂlatan, Jawa Timur dan Bali.
“Provinsi-provinsi tersebut akan mendapat perlakuan khuÂsus. Untuk itu diperlukan adanya peÂmetaan tentang daerah yang rentan terjangkit penyakit akibat peruÂbaÂhÂan iklim,†ujar Wilfreid dalam acara temu media meÂngeÂnai PeÂrubahan Iklim di JaÂkarta, Jumat (28/9).
Kemenkes juga akan berÂsinergi dengan Badan MeÂteÂoÂrologi, KliÂmatologi dan GeoÂfisika (BMKG) guna menÂcipÂtakan standar inÂformasi peruÂbahan iklim terhaÂdap sektor keÂsehatan dengan speÂsiÂfikasi wakÂtu, unit informasi serta parameter perubahan iklim.
“Tentunya akan bermanfaat bagi kebutuhan operasional daÂlam mengolah data bersama,†kata Wilfreid.
Menurutnya, peningkatan peÂÂlaÂÂyanan kesehatan yang meÂrata, terÂjangkau dan bermutu perÂlu diÂtingkatkan seperti kuÂaÂlitas saÂraÂna air bersih dan sanitasi serta susÂtainibilitas, kualitas PeruÂsaÂhaan Daerah Air Minum (PDAM), air minum isi ulang/ kemasan, dan terus meÂngÂajak masyarakat berÂperilaku hidup sehat.
Pihaknya terus mengÂimbau masÂyarakat tetap wasÂpada terhaÂdap lingkungan terÂutama pada saat perubahan cuaca. DiÂkhawaÂtirkan, peruÂbahan cuaca akan menyebabkan diare, infeksi saÂluran pernapasan atas (ISPA), malaria, demam berdarah deÂngue (DBD), dan leptospirosis.
Direktur Operasional PeruÂbaÂhan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Budi Suhardi mencatat, pada bulan ini, kasus DBD menÂcapai 4.500 orang dengan curah hujan 200 milimeter (mm).
“DBD di Jakarta potensinya di April, dengan curah hujan terÂsebut, saat yang tepat bagi nyaÂmuk untuk berkembang biak. Tingginya kasus DBD di Jakarta karena faktor pola hidup yang kurang sehat, ditambah padatÂnya penduduk,†kata Budi. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: