Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Luka Kulit Bekas Operasi Bisa Picu Penyakit Keloid

Ganggu Penampilan Jadi Kurang Pede

Minggu, 30 September 2012, 08:08 WIB
Luka Kulit Bekas Operasi Bisa Picu Penyakit Keloid
ilustrasi/ist
rmol news logo Jangan sepelekan luka jahitan bekas operasi maupun luka kulit lainnya. Bila tak dirawat dengan benar, bisa menyebabkan penyakit keloid atau parut pada kulit Anda. Keloid tak berbahaya secara medis, tetapi juga bisa mempengaruhi penampilan.

Penyakit keloid biasanya terjadi akibat luka bakar, kece­lakaan, bekas operasi maupun penyakit. Makin besar kerusakan pada kulit dan makin lama pro­ses kesembuhannya, makin be­sar pula peluang terjadinya parut be­kas luka.

Menurut spesialis bedah plastik dari Fakultas Kedokteran Uni­versitas Indonesia (FKUI) dr Teddy Prasetyono, parut bekas luka ada yang normal dan tidak normal. Keloid atau parut ber­lebihan serta bekas luka yang tebal (hipertrofi) termasuk da­lam parut yang abnormal.

Ada banyak faktor yang me­m­pengaruhi timbulnya bekas luka yang abnormal. Misalnya luka yang sembuh sendiri dan tidak dirawat, cedera berulang, faktor keturunan, atau karena waktu penyembuhan luka yang lama.

“Begitu juga dengan dokter be­dah yang kurang bagus, bisa ber­pengaruh pada timbulnya bekas luka jahitan,” kata Teddy dalam acara perawatan parut be­kas luka di Jakarta, Jumat, (21/9).

Menurut Teddy, ada beberapa metode untuk menghilangkan atau menyamarkan bekas luka yang disebabkan oleh keloid. Antara lain dengan pembedahan, injeksi untuk menipiskan parut yang tebal, penyinaran hingga pe­makaian alat kompresi.

Namun, sebenarnya bekas luka kulit bisa dicegah sejak luka ma­sih dalam tahap awal. Misal­nya, pada pasien operasi caesar, disa­rankan untuk memeriksakan ke dokter bedah plastik pada dua atau tiga minggu pertama pasca operasi, serta rajin ber­kon­­sultasi ke dokter.

“Dengan pemeriksaan awal dan rajin konsultasi, kemungkinan besar akan terhindar dari parut akibat bekas operasi, penyakit maupun kecelakaan,” katanya.

Dia mengatakan, keberadaan parut bisa mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Alasannya, se­lain mempengaruhi penam­pakan kulit, bekas luka membuat pera­sa­an tak nyaman. Akibatnya, se­seorang yang mempunyai parut biasanya membatasi fungsi ge­rak dan aktivitas kesehariannya.

“Parut tidak hanya bermasalah secara fisik, tetapi secara psi­ko­logis penderita pun merasa ter­tekan. Pasalnya, bekas luka pa­rut, baik di lokasi terbuka mau­pun tertutup bisa mem­pe­ngaruhi ke­percayaan diri se­se­orang,” te­rangnya.

Pakar bedah plastik dari Ni­guarda Hospital Milan, Italia, Massimo Signorini mengatakan, penggunaan gel silikon cukup efek­tif mencegah parut. Gel sili­kon ini bekerja dengan me­nekan proses pem­bentukan ko­lagen yang me­n­jadi salah satu faktor terjadi­nya be­kas luka yang menonjol.

“Penggunaan gel silikon akan membuat bekas luka yang tegang dan kaku menjadi lunak selama proses penyembuhan, sehingga hasil akhirnya bekas luka lebih lembut dan tidak menonjol,” kata Signorini. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA