Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Nyeri Sendi Disertai Bengkak, Penyebab Artritis Reumatoid

Sulit Disembuhkan & Bisa Timbulkan Kecacatan

Jumat, 21 September 2012, 08:11 WIB
Nyeri Sendi Disertai Bengkak, Penyebab Artritis Reumatoid
ilustrasi, Artritis Reumatoid
rmol news logo Jangan sepelekan rasa ngilu, nyeri pada persendian yang disertai bengkak, merah, sendi merasa kaku , sakit jika digerakkan dan terus berulang-ulang, bisa jadi itu gejala Artritis Reumatoid (AR). Bila tidak segera ditangani bisa menyebabkan kecacatan.

Artritis Reumatoid bukan lah penyakit rematik. Penyakit ini merupakan penyakit au­toimun yang menyebabkan peradangan sendi kronik dan belum diketahui penyebabnya.

Menurut Dokter Divisi Re­ma­tologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Ke­dok­teran Uni­versitas Indo­nesia (FK-UI) Ru­mah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Harry Isbagio, penyakit ini jangan di­anggap remeh karena bisa me­rusak persendian tulang dalam tubuh. Penderita penya­kit juga sering mengalami deforma­si (pe­rubahan bentuk) sendi se­hing­ga ke­hi­langan mo­bilitasnya.

“Para medis pun banyak yang belum mengetahui penyakit ter­sebut. Kebanyakan dokter men­curigai pasien hanya meng­alami asam urat atau rematik berda­sarkan nyeri yang dila­por­kan­nya,” kata Harry, Jumat (14/9).

Di Indonesia, jumlah pen­derita AR diperkirakan sekitar 0,1-0,3 persen dari jumlah pen­duduk dan lebih banyak menye­rang orang dewasa dan wanita. Gejala utama penyakit ini selain bengkak dan ke­merahan adalah nyeri pada ba­nyak sendi.

“Kebanyakan sendi yang di­serang kiri dan kanan. Mi­salnya, pundak kiri dan kanan atau ke­dua bagian tangan. Ciri lainnya, ada­nya benjolan serta rasa ke­lelah­an,” paparnya.

Meski jumlah penderita AR se­dikit, namun penyakit ini sa­ngat progresif dan paling banyak me­nyebabkan keca­catan. “Per­sen­dian akan meng­alami keru­sakan mulai terjadi pada 6 bulan per­tama dan jika tidak diobati bisa terjadi cacat dalam 2-3 tahun dan itu perlu diwaspadai,” ujarnya.

Menurut Harry, pengobatan utama penyakit AR adalah untuk memperbaiki fungsi sen­di, men­cegah kecacatan dan disabilitas. “Belum ada obat menyembuhkan penyakit ini. Obat yang sekarang ada ha­nya­lah untuk mengurangi gejala dan mencegah penyakit. Ma­sya­rakat diharapkan mewas­padai gejala penyakit  tersebut,” warning-nya.

Head Of Medical Mana­ge­ment PT Roche Indonesia Arya Wibi­tomo mengatakan, penya­kit ini sulit dideteksi dan ke­ba­nyakan orang maupun dokter meng­anggap itu penyakit re­matik. “Penyakit ini sulit disem­buhkan dan belum ada obat yang bisa menyembuhkan se­cara total penyakit tersebut,” katanya.

Namun, penderita AR tak perlu risau lagi, karena telah ditemukan terapi pengobatan berbasis bio­logi terbaru, yang disinyalir dapat memberikan efek penyembuhan signifikan. Terapi pengobatan yang dikenal dengan tocilizumab ini, kini telah diizinkan sebagai pengo­batan di Indonesia.

“Terapi ini merupakan mono­krono antibody, mirip antibodi yang terdapat di dalam tubuh, yang didesain sedemikian rupa untuk memburu Interleukin 6 (IL6), dimana IL6 merupakan sistem imun di dalam tubuh, yang me­miliki efek yang sangat me­nya­­kitkan bagi pasien,” ujar Arya.

Menurutnya, tocilizumab me­rupakan terapi biologi te­r­baru sebagai perkembangan dari obat kimia. Berdasarkan uji klinis lebih dari 4.000 pasien, di 725 pusat studi pada 41 negara di dunia, terapi obat ini memberikan respon klinik yang cepat dan meningkat dari waktu ke wak­tu. Uji klinik tersebut terdiri dari dua fase II, lima fase III dan dua uji klinik open label extensi.

Selain itu, obat ini dapat me­nunjukkan adanya per­baikan kualitas hidup yang lebih baik, dari penderita, karena penderita dapat mela­kukan ber­ba­gai ak­tifitas kem­bali, dan meng­hambat risiko kerusakan tulang akibat pera­dangan sendi. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA